NASKAH TEATER HITAM PUTIH

Posted by Ockym al ayuby on Wednesday, 30 January 2013

Salah satu bentuk prosa yang kurang mendapat perhatian dari para penulis pemula adalah naskah teater. Tidak mengherankan bila setiap diadakan lomba atau sayembara, para pesertanya tetap didominiasi para penulis senior atau setidak-tidaknya penulis yang telah sebelumnya memiliki pengalaman menulis naskah teater.

Peminat naskah teater dari jenjang yang paling bawah yakni siswa-siswi sekolah menengah sampai kepada seniornya di perguruan tinggi. Belum termasuk kelompok teater tertentu yang secara rutin mementaskan teater tapi tidak memiliki penulis naskah teater yang tetap. Maka jalan keluarnya adalah mengambil naskah-naskah teater xang telah dibukukan, naskah teater terjemahan atau belakangan mengunduh dari laman internet yang sering memublikasikan naskah-naskah teater.

Ada yang beranggapan kekuatan visualisasi dari pementasan sebuah naskah sangat ditentukan oleh kualitas naskah teaternya sendiri. Naskah yang baik dengan konflik kuat, akan memberi peluang lebih besar untuk menghasilkan visualisasi pementasan teater yang baik. Berbeda dengan ketika menulis naskah cerita pendek atau novel, naskah teater harus senantiasa konsisten dalam mempertimbangkan bentuk visualisasinya.

Ada naskah teater yang secara verbal baik dan kuat, namun ketika dipentaskan ternyata mengalami kesulitan tersendiri. Hal ini terjadi karena ketika menulis naskah teater, kurang memerhatikan peluang untuk visualisasinya. Seorang penulis naskah teater jug` harus senantiasa memperhitungkan bahwa ketika akan dipentaskan, naskahnya itu akan bersinggungan dengan unsur-unsur pentas lain seperti pemain, sutradara, kostum, dan tata artistik.

Naskah Teater - Menulis Naskah Teater

Secara struktur sebenarnya tak ada bedanya antara penulis prosa dalam bentuk novel, naskah, atau skenario film dan sinetron, dibanding dengan menulis naskah teater. Kesamaan struktur tersebut yaitu sama-sama terdiri dari tema, setting, plot, dan pengembangan karakter tokoh. Hanya saja karena naskah teater dibuat untuk dipentaskan dan bukan untuk semata-mata dibaca maka dalam hal ini ada rumusan lain untuk sebuah naskah teater.

Aristoteles memberi rumusan bahwa sebuah struktur naskah teater yang baik terbagi ke dalam lima besar bagian yang meliputi pemaparan, konflik, klimaks, resolusi, dan kesimpulan. Namun demikian dalam pengembangannya tidaklah harus kaku seperti itu, tapi bisa dikombinasikan sesuai dengan keperluan. Ada beberapa naskah teater yang dibuka dengan adegan konflik, baru kemudian pemaparan dan seterusnya. Kombinasi penempatan dan penggunaan kelima bagian tadi menjadi kewenangan penulis naskah teater, namun tetap harus mempertimbangkan bagaimana ketika naskah teater dipentaskan.

Menulis naskah teater tentu saja dimulai dari munculnya ide. Dari mana ide itu datang? Menurut Enang Rokajat Asura dalam bukunya Panduan Praktis Menulis Skenario Dari Iklan Sampai Sinetron yang diterbitkan oleh penerbit Andi, Yogyakarta, dijelaskan bahwa ide itu seperti loncatan kilat di langit. Ide itu datangnya cepat dan bisa datang kapan saja dan di mana saja.

Supaya tidak kehilangan ide yang akan menjadi inspirasi sebelum anda menyusun naskah teater, tentu saja ada menangkap loncatan ide tersebut. Caranya dengan menulis loncatan ide tersebut. Oleh karena itu, seorang penulis harus selalu membawa catatan ke manapun pergi. Ide juga tidak perlu ditunggu kedatangannya melainkan harus digali, digali, dan terus digali.

Aktor Sang Eksekutor Naskah Teater

Aktor adalah eksekutor di lapangan pada saat pementasan sebuah naskah teater. Seorang aktor yang baik tidak saja bekerja berdasarkan arahan sutradara tapi memiliki energi dalam yang luar biasa sehingga bisa menghidupkan tokoh yang ada di dalam sebuah naskah teater. Asrul Sani dalam pengantar terjemahan dari buku karya Richard Boleslavski, kita harus membedakan antara bintang film dengan aktor.

Asrul Sani menyindir halus bahwa sesungguhnya untuk menjadi seorang bintang film tidak perlu pendidikan dan kerja keras. Seorang bintang film bisa lahir karena nasib dan banyaknya publikasi. Namun, tidak demikian dengan lahirnya seorang aktor. Lalu siapa sebenarnya aktor itu?

Dalam buku Dasar-dasar Dramaturgi karangan Japi Tambayong atau lebih populer dengan nama Remi Sylado, dengan meminjam istilah Oscar G. Brockett, Japi Tambayong menjelaskan bahwa aktor adalah salah seorang di antara para seniman yang secara asasi tak bisa bekerja terlepas dengan dirinya. Karena karya seninya itu tak lain adalah suara, tubuh, dan jiwanya sendiri. Bayangkan, betapa beratnya tugas seorang aktor tersebut yang menurut Asrul Sani bisa lahir karena nasib dan publikasi.

Dalam sebuah pementasan naskah teater, seorang aktor harus berhadapan dengan tenaga luar dari dirinya. Tenaga luar ini meliputi naskah, tata panggung, perwatakan, sutradara, dan pementasan itu sendiri. Sungguh berat tugas seorang aktor. Tapi bila berhasil mengekspresikan sebuah karakter dari sebuah naskah teater, seorang aktor tidak saja merasa senang sebatas dirinya tapi bisa menyenangkan semua yang terlibat dalam pementasan teater tersebut termasuk juga para penontonnya.

Contoh Naskah Teater

Sebuah naskah teater yang terjaring dari Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja yang diselenggarakan oleh Seksi Penyajian Taman Budaya Jawa Timur 2004 adalah Hitam Putih. Menurut penulisnya, hampir setiap tahun ada saja permintaan untuk mementaskan naskah tersebut baik oleh klub teater di sekolah menengah maupun para mahasiswa.

Anda bisa pelajari salah satu bab dari naskah teater “Hitam Putih” ini:

Naskah Drama Remaja Hitam Putih
Karya: Enang Rokajat Asura
Tokoh:

1. Amaral

2. Nenek

3. Rio

4. Dua Orang Bodyguard

5. Putri

6. Seorang Lelaki

7. Figuran

Cuplikan Naskah:

Babak Satu
Panggung adalah sebuah ruangan kosong. Ruangan fantasi. Amaral, seorang remaja Bella terseret dalam tarik-menarik antara kepentingan yang berbeda. Di sisi kiri Rio dengan selendang hitam, dan di sisi kanan nenek dengan selendang putih.Tarik-menarik antara Rio dan nenek Amaral membentuk sebuah tarian. Selendang hitam dan putih itu terus menjerat Amaral dalam gerakan-gerakan yang makin lama kian rancak. Akhirnya pada saat Amaral mencapai puncak kekesalan dan gelisah, selendang hitam dan putih itu putus.

Amaral terduduk lesu beberapa saat. Dalam temaram lampu, gerak Amaral bangkit membentuk sebuah silhoutte. Dingin. Detak jantung terdengar memburu. Amaral bangkit kemudian mengikuti gerak detak jantung itu. Makin lama terdengar makin keras dan memburu. Pada detak jantungnya sendiri, Amaral tidak bisa menguasai bahkan tak mampu mengendalikan. Detak jantung itu terus memburu dan memburu. Amaral lalu terengah-engah mencari sesuatu. Di kiri dan kanan selendang putih dan hitam juga menggapai-gapai.

Amaral: "Hitam....putih...Hitamku ...putihmu...putihku...hitammu...Di mana hitamku...di mana hitammu...Di mana putihku....di mana putihmu...Putih....hitam...Putihku...hitamku...dingin...Angin...di mana hitamku...di mana putihku..."

Rio: "Hitammu di sini...bukan itu...bukan di sana...Lihat...pandang...tatap...Hitammu di sini...Amaral!"

Amaral: "Hitamku di sana? hitamku di nadimu?"
Nenek: Itu bukan hitam, Cu !Itu abu-abu...abu bukan hitam...karena ada putih di sana...Abu-abu bukan putih...Oh...(terkekeh) abu-abu bikin bingung kamu, Cu ? Tidak...jangan bingung ! Pandanglah abu-abu itu dengan ini "...(menepuk dada dan batuk)

Rio (terkekeh): "Mana mungkin bisa membedakan hitam dan putih,mengatur napas saja tidak becus !kau batuk-batuk terus, Nek! Tak perlu memikirkan hitam dan putih, pikirkanlah liang lahat!"

Nenek: "Tengik juga kau anak muda !Jangan dengar itu, Cu! Jangan kau dengar...kau akan menemukan putihmu...putihmu yang kau cari...bukan putih dia...bukan putih orang lain!!!"

Amaral: "Biarlah aku pandang sendiri, Nek!!Jangan memandang dengan mata nenek...Aku masih awas...Pasti lebih awas! Mata nenek sudah rabun...Mana bisa mewakili keinginanku!!"

Amaral berjalan ke depan panggung. Pada penonton. Menatap satu per satu. Mencari sesuatu. Amaral seperti bingung sendiri. Nenek geleng-geleng kepala tak percaya dengan ucapan cucunya tadi.

Amaral: "Aku tak melihat putih di sana...Hoi...adakah putihku di sana?Hoi...hanya ada hitamkah di sana?"

Nenek (batuk-batuk): "Hitam dan putih tidak di mana-mana, Cu! tapi di sini ....(menepuk dada dan batuk-batuk kembali) ah...kenapa penyakit ini selalu saja manja...dasar penyakit zaman sekarang...manja...tak bisa mandiri..."

Amaral (pada Nenek): "Artinya nenek sudah tua..."

Nenek: "Bagus...bagus itu, Cu! Kalau kau sudah mengaku aku tua, kau akan pula mengaku nenekmu bisa membedakan mana hitam mana putih..."

Rio: "Dalam kacamata tuamu, mana mungkin bisa membedakan hitam dan putih lihat...ini hitammu di sini...hitammu ada pada hitamku, Amaral!"

Amaral mulai terlihat gamang. Ia berjalan ke arah Rio. Namun Nenek tiba-tiba datang tergopoh. Dengan selendang putihnya, Nenek membelit Amaral. Sesekali berhasil, tapi Amaral bisa lepas. Dibelitkannya lagi selendang itu beberapa kali. Berhasil. Tapi Amaral bisa melepasnya lagi. Adegan ini beberapa kali diulang sehingga terlihat bagaimana tarik-menarik keinginan antara Amaral dan Nenek.

Dari sudut panggung beberapa orang berpakaian hitam sehingga hanya tampak sebagai bayangan. Bayangan hitam itu kemudian mendekati Nenek dan Amaral. Pada satu saat secara serempak bayangan itu memegang Amaral, mengangkatnya tinggi dan membopongnya menjauh dari Nenek. Rio terdengar terkekeh. Kemudian lelaki jangkung ini duduk di kursi. Ia mulai konsentrasi dan bermain piano. Piano fantasi. Lamat-lamat mengalun lagu sendu. Nenek terlihat berdiri goyah, lalu terduduk tak mampu menahan gejolak rasa dan berat tubuhnya.

Nenek: "Tuhan, jangan biarkan hitam membawa cucuku! Kuatlah putihmu di sini....Pancarkan putihmu pada cucuku! Jangan...jangan biarkan hitam itu, Tuhan! Jangan biarkan membawa cucuku..." Nenek memaksa berdiri tapi kembali  terduduk. Berdiri. Duduk. Berdiri dan roboh kembali. Nenek akhirnya mendorong tubuhnya ke arah penonton. Seperti tentara sedang latihan tiarap. Nenek terus mendekati pinggir panggung. Sementara Rio terus bermain piano. Makin semangat bahkan seperti yang kerasukan sehingga nada yang dihasilkannya pun lebih berupa teror. Teror nada. Nenek tak peduli dan tetap bicara pada penonton.

Nenek: "Adakah putihku di sana? Tunjukanlah!!! Mana putihku?

Dari arah penonton: "Tak ada putih di sini..."

***
Artikel Terkait
1 Comments
Tweets
Comments

{ 1 comments... read them below or add one }

emmo zen said...

buat yang tertarik dengan sastra ,kami membuka lebar buat kalian member yang ingin gabung,,monngo ,,klik disini,,,ok?
https://www.facebook.com/groups/217279628328044/?fref=ts

tunngu apa lagi?
CHEK THIS OUT?
ARE YOU READY?

Post a Comment