Unsur Intrinsik Sastra

Posted by Ockym al ayuby on Wednesday, 30 January 2013

Kita pasti sering membaca salah satu di antara karya berikut: puisi, cerpen/novel, dan drama. Atau bisa jadi Anda sering membaca ketiga-tiganya. Ketiga karya tersebut termasuk dalam jenis tulisan karya sastra. Karya yang bersifat fiksi dan mempunyai sisi keindahan, baik dari segi bahasa maupun isinya.

Puisi adalah salah satu karya yang tergolong sulit untuk diidentifikasi unsur intrinsiknya apabila kita tidak mengenal betul struktur pembangun yang terdapat dalam karya sastra berbentuk puisi.

Karyanya yang pendek justru membuat puisi menjadi ungkapan perasaan dan pikiran yang maknanya hanya bisa dimengerti apabila kita memiliki banyak pengetahuan mengenai unsur intrinsik sastra berbentuk puisi.

Karya sastra mempunyai unsur pembangun, yaitu unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik sastra.

Unsur ekstrinsik adalah unsur pembentuk karya sastra di luar karya sastra, meliputi latar belakang pengarang dan keadaan sosial budaya saat karya itu ditulis. Sedangkan unsur intrinsik sastra adalah unsur yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri.


Untuk mengetahui lebih jelas mengenai unsur intrinsik sastra, maka kita akan membahasnya satu per satu. Mulai dari apa saja bentuk unsur intrinsik sastra, bagaimana cara mengidentifikasinya dalam sebuah karya, serta peranannya dalam membangun karya sastra.

Apa saja unsur intrinsik karya sastra itu?

Unsur intrinsik sastra pada umumnya meliputi tema, amanat, alur, tokoh dan perwatakan, latar dan sudut pandang (Ade Nurdin dkk, 2002. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia SMU).

1.      Tema yaitu pokok pikiran yang mendasari pengembangan cerita. Setiap cerita mempunyai satu tema walau cerita itu sangat panjang.

Tema selalu hadir dalam sebuah karya sastra, baik itu puisi, cerpen, maupun novel karena gagasan yang hendak disampaikan oleh penyair atau pengarang tersirat pada tema yang disampaikan lewat cerita atau narasi karya sastra.

Tema yang digagas tersebut bisa merupakan tema utama atau bisa juga merupakan tema sampingan yang berfungsi mendukung gagasan utama yang disampaikan oleh penulis.

2.      Amanat yaitu pesan yang ingin disampaikan oleh pengrang. Pesan dalam karya sastra bisa berupa kritik, harapan, usul, dan sebagainya.

Amanat akan berhubungan dengan tema yang digagas oleh penyair atau pengarang karya sastra. Dengan tema sosial, maka akan muncul amanat mengenai kehidupan sosial yang juga diangkat oleh pengarang dalam ceritanya.

Amanat yang disampaikan oleh cerita bisa bersifat langsung atau tidak bergantung modus yang digunakan penyair atau pengarang dalam membeberkan cerita.

Dalam puisi, amanat biasanya muncul secara tidak langsung lewat pembacaan dan pemaknaan yang dilakukan sendiri oleh pembaca puisi, sedangkan dalam karya cerpen dan novel, amanat bisa muncul secara sengaja oleh penulis.

3.      Alur adalah rangkaian cerita yang disusun secara runtut. Alur cerita biasanya dibangun oleh perkenalan, pertikaian, klimaks, peleraian, dan akhir cerita. Alur cerita bisa maju maupun mundur. Maju artinya cerita dimulai dari cerita waktu dulu ke cerita waktu sekarang. Sedangkan alur mundur adalah kebalikannya.

Lewat alur tersebut pembaca juga bisa mengetahui berbagai unsur intrinsik sastra yang terdapat dalam puisi, cerpen, atau novel. Namun, sangat jarang bila karya sastra berbentuk puisi memiliki alur yang serupa dengan alur yang terdapat pada karya sastra berbentuk cerpen atau novel.

Dalam puisi, alur bukanlah hal utama yang bisa membentuk keutuhan karya. Unsur pembangun yang menjadi faktor utama pembangun karya sastra puisi adalah struktur fisik dan batinnya yang tidak terdapat pada karya sastra lain, seperti nada, bunyi, tipografi, dan sebagainya.

4.      Tokoh dan Perwatakan adalah gambaran sifat/watak tokoh cerita. Unsur intrinsik sastra di dalam novel terdiri dari tokoh utama dan tokoh figuran. Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi sentral dalam cerita. Tokoh figuran adalah tokoh yang berperan sebagai pendukung tokoh utama. Berdasarkan sifatnya, tokoh erita ada dua, antagonis dan protagonis. Antagonis adalah tokoh jahat, sedangkan protagonis adalah tokoh yang bersifat baik.

Di dalam karya sastra berbentuk puisi pun terdapat tokoh dan perwatakannya. Akan tetapi, tokoh yang diusung dalam puisi biasanya tidak seintens yang digagas dalam cerpen atau novel.

Tokoh dalam puisi biasa disebut aku lirik karena sangat jarang puisi yang di dalamnya menyebutkan nama tokoh puitik seperti yang biasa ditampilkan dalam karya sastra berbentuk cerpen atau novel.

5.      Latar adalah tempat dan waktu terjadinya cerita. Selain kedua latar tersebut, ada juga yang disebut dengan latar sosial, yakni pelataran mengenai pendidikan, status sosial, dan kondisi tokoh dalam masyarakat yang diceritakan dalam karya sastra.

6.      Sudut pandang yaitu posisi pengarang dalam membawakan cerita. Posisi pengarang terdiri dari dua macam, yaitu berperan sebagai tokoh yang terlibat secara langsung atau hanya sebagai pihak ketiga/pengamat saja.

Sudut pandang ini tidak berlaku absolute karena ada juga beberapa penulis yang menerapkan beberapa sudut pandang dalam satu cerita. Misalnya saja karya sastra novel berjudul “Cala Ibi” karya Nukila Amal yang mengambil sudut pandang aku dank au secara bergantian.

Cara Mengidentifikasi Unsur Instrinsik

Bagaimana cara kita untuk bisa mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik pada sebuah karya sastra?

    Tema dapat diidentifikasi dengan cara menulis hal-hal yang dibicarakan dalam cerita, baik secara tersirat maupun tersurat. Hal yang paling banyak dibicarakan itulah yang biasanya yang menjadi pokok bahasan atau tema cerita.
    Amanat dapat ditangkap dari sebab akibat perbuatan para tokohnya. Jika tokoh adalah orang yang jujur dan dalam cerita tersebut ia menjadi orang yang berhasil dalam hidupnya, berarti cerita tersebut mengundung pesan tentang kejujuran.
    Alur dapat diidentifikasi dengan menulis kapan cerita itu dimulai dan diakhiri. Jika cerita diawali dari waktu lalu menuju waktu sekarang, berarti cerita tersebut beralur maju, demikian sebaliknya jika beralur mundur.
    Untuk menentukan tokoh utama adalah dengan menghitung berapa banyak tokoh tersebut tampil dan seberapa banyak dibicarakan. Tokoh yang paling banyak tampil dan dibicarakan adalah tokoh utama dalam cerita.
    Latar sangat mudah diidentifikasi, yaitu dengan memperhatikan kapan dan di mana cerita itu berlangsung.
    Sudut pandang berkaitan dengan gaya penceritaan penulis. Jika pengarang menggunakan kata aku untuk mewakili dirinya, berarti penulis ikut terlibat dalam cerita yang ditulisnya.


Nah, dengan mengetahui unsur-unsur intrinsik sastra di atas, kita akan lebih bisa memaknai karya sastra yang kita baca. Pemaknaan yang mendalam sangat mempengaruhi kita dalam menikmati sebuah karya.



Unsur Intrinsik Sebagai Pembangun Suatu Karya Sastra

Setelah mengetahui apa saja unsur intrinsik sastra dan bagaimana cara mengidentifikasinya, tentu saja kita juga harus mengetahui fungsi dan peranannya dalam karya sastra.

Selain untuk membentuk fisik karya sastra yang sempurna, unsur intrinsik sastra juga dibutuhkan sebagai pembangun karya sastra agar memiliki keutuhan secara fisik dan batin.

Tanpa keduanya, suatu karya sastra akan menjadi lumpuh dan sulit untuk diterima di masyarakat karena pada dasarnya, karya sastra merupakan refleksi dari kehidupan sehari-hari yang dijalani oleh manusia.

Dari unsur-unsur tersebut, kita bisa mengetahui kondisi kebudayaan suatu masyarakat, bahkan kondisi sosial yang dihadapi oleh pengarang karya sastra tersebut. Misalnya saja, kita bisa mengetahui karakter masyarakat Bali beserta kebudayaannya lewat tema dan latar yang disajikan oleh penulis Oka Rusmini dalam karya-karyanya.

Selain itu, kita juga bisa membedakan status sosial penulis yang satu dengan penulis yang lain lewat unsur intrinsik yang diangkat dalam karya sastra tiap penulis.

Misalnya saja, kita bisa membedakan kehidupan metropolitan yang diangkat oleh penulis Djenar Maesa Ayu dengan karakter primordial yang diangkat oleh Oka Rusmini. Meskipun keduanya sama-sama penulis perempuan, namun terdapat perbedaan secara sosial yang diperlihatkan oleh keduanya lewat cerita yang diangkat.

Djenar yang lebih memosisikan perempuan sebagai substansi yang bebas, berbeda dengan Oka Rusmini yang menganggap perempuan sebagai nilai local yang berbudi luhur dan bernilai adiluhung.

Selain itu, kita juga bisa mengetahui paradigma penulis lewat unsur intrinsik yang disajikan dalam karyanya. Misalnya saja, karya Pramoedya Ananta Toer yang bersifat sosialis, Y.B. Mangunwijaya yang bersifat religius, Kuntowijoyo yang bersifat spiritualis, dan berbagai karakter serta ideologi penulis.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa unsur intrinsik sastra merupakan faktor utama yang membangun fisik dan ruh suatu karya sehingga bisa merepresentasi kehidupan masyarakat beserta kultur yang hidup di dalam masyarakat tersebut.
Artikel Terkait
1 Comments
Tweets
Comments

{ 1 comments... read them below or add one }

emmo zen said...

postingin tentang karya satra klasik melayu ya bos,,,iam waiting,,,

Post a Comment