DOWNLOAD VIA ZIDDU.COM
JIKA LINK TIDAK BERFUNGSI KLIK ICON FACEBOOK KAMI YANG ADA DI KANAN POSTINGAN!!!
SEMOGA BERMANFAAT
Contoh Studi Lapang di Kampung Cikadongdong, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Konflik Antar Kelas
Pengertian tentang desa cukup beragam, beberapa tokoh
sosiologi pedesaan dan antropologi memberikan pandangan tentang desa. Menurut
Koentjaraningrat (1984), bahwa desa dimaknai sebagai suatu komunitas kecil yang
menetap tetap di suatu tempat. Pemaknaan tentang desa menurut pandangan ini
menekankan pada cakupan, ukuran atau luasan dari sebuah komunitas, yaitu
cakupan dan ukuran atau luasan yang kecil. Pengertian lain tentang desa
dikemukakan oleh Hayami dan Kikuchi (1987) bahwa desa sebagai unit dasar
kehidupan kelompok terkecil di Asia, dalam konteks ini “desa” dimaknai sebagai
suatu “desa alamiah” atau dukuh tempat orang hidup dalam ikatan keluarga dalam
suatu kelompok perumahan dengan saling ketergantungan yang besar di bidang
sosial dan ekonomi. Pemaknaan terhadap desa dalam konteks ini ditekankan pada
aspek ketergantungan sosial dan ekonomi di masyarakat yang direpresentasikan
oleh konsep-konsep penting pada masyarakat desa, yaitu cakupan yang bersifat
kecil dan ketergantungan dalam bidang sosial dan ekonomi (ikatan-ikatan
komunal).
Desa mempunyai ciri atau karakteristik yang berbeda satu
sama lain, tergantung pada konteks ekologinya. Pengkajian masyarakat pedesaan
memberikan ciri atau karakteristik yang cenderung sama tentang desa. Pada aspek
politik, masyarakat desa cenderung berorientasi “ketokohan”, artinya
peran-peran politik desa pada umumnya ditanggungjawabkan atau dipercayakan pada
orang-orang yang ditokohkan dalam masyarakat. Secara ekonomi, mata pencaharian
masyarakat desa berorientasi pada pertanian artinya sebagian besar masyarakat
desa adalah petani. Sedangkan dalam konteks religi-kultural masyarakat desa
memiliki ciri nilai komunal yang masih kuat dengan adanya guyub rukun, gotong
royong dan nilai agama atau religi yang masih kuat dengan adanya ajengan atau
Kyai sebagai pemuka agama.
Secara historis, desa memerankan fungsi yang penting dalam
politik, ekonomi dan sosial-budaya di Indonesia. Di sisi lain, pedesaan
merupakan daerah yang dominan jumlahnya di Indonesia, dimana sebagian besar
masyarakat Indonesia hidup di daerah pedesaan. Hal ini memberikan implikasi
pada banyaknya program pembangunan yang diorientasikan pada masyarakat
pedesaan. Dengan demikian, maka kajian mengenai masyarakat desa menjadi suatu
hal yang sangat penting dilakukan sebagai kerangka dasar pembangunan nasional.
Dua hal penting yang akan menjadi fokus kajian tentang pedesaan dalam kegiatan
turun lapang ini yaitu struktur sosial dan dinamika masyarakat pedesaan.
Struktur sosial yang dimaksudkan adalah hubungan antar status/peranan yang
relatif mantap. Sementara itu, dinamika masyarakat dimaknai sebagai proses
gerak masyarakat dalam keseharian, dalam konteks ruang dan waktu.
Sastramihardja (1999) menyatakan bahwa desa merupakan suatu
sistem sosial yang melakukan fungsi internal yaitu mengarah pada
pengintegrasian komponen-komponennya sehingga keseluruhannya merupakan satu sistem
yang bulat dan mantap. Disamping itu, fungsi eksternal dari sistem sosial
antara lain proses-proses sosial dan tindakan-tindakan sistem tersebut akan
menyesuaikan diri atau menanggulangi suatu situasi yang dihadapinya. Sistem
sosial tersebut mempunyai elemen-elemen yaitu tujuan, kepercayaan, perasaan,
norma, status peranan, kekuasan, derajat atau lapisan sosial, fasilitas dan
wilayah.
Masyarakat selalu dikaitkan dengan gambaran sekelompok
manusia yang berada atau bertempat tinggal pada suatu kurun waktu tertentu.
Pengertian ini menggambarkan adanya anggapan bahwa manusia tidak dapat
dilepaskan dari faktor lingkungannya, baik yang bersifat fisik maupun sosial.
Berdasarkan pandangan dari segi sosiologi, hal ini memperlihatkan adanya
interaksi sosial antara manusia secara kelompok maupun pribadi. Masyarakat
mengutamakan hubungan pribadi antara warganya, dalam arti bahwa masyarakat desa
cenderung saling mengenal bahkan seringkali merupakan ikatan kekerabatan yang
berasal dari suatu keluarga ”pembuka desa” tertentu yang merintis terbentuknya
suatu masyarakat guyub. Pada masyarakat desa terdapat ikatan solidaritas yang
bersifat mekanistik dalam arti bahwa hubungan antar warga seakan telah ada
aturan semacam tata krama atau tata tertib yang tidak boleh dilanggar jika
tidak ingin mendapat sanksi. Adanya tata tertib tersebut sesungguhnya ingin
menjaga suatu comformity di kalangan masyarakat desa itu sendiri.
Menurut Geertz (1963) masyarakat desa di Indonesia identik
dengan masyarakat agraris dengan mata pencaharian sektor pertanian, baik petani
padi sawah (Jawa) maupun ladang berpindah (Luar Jawa). Selain itu, sejumlah
karakteristik masyarakat desa yang terkait dengan etika dan budaya mereka, yang
bersifat umum yang selama ini masih sering ditemui yaitu: sederhana, mudah
curigai, menjunjung tinggi kekeluargaan, lugas, tertutup dalam hal keuangan,
perasaan minder terhadap orang kota, menghargai orang lain, jika diberi janji
akan selalu diingat, suka gotong royong, demokratis, religius. Kedudukan
seorang dilihat dari berapa luasan tanah yang dimiliki.
Stratifikasi
Sosial
Stratifikasi sosial merupakan pembedaan anggota masyarakat
berdasarkan status (Susanto, 1993). Definisi yang lebih spesifik mengenai
stratifikasi sosial antara lain dikemukakan oleh Sorokin (1959) dalam Soekanto
(1990) bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke
dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya
kelas tinggi dan kelas rendah. Sedangkan dasar dan inti lapisan masyarakat itu
adalah tidak adanya keseimbangan atau ketidaksamaan dalam pembagian hak,
kewajiban, tanggung jawab, nilai-nilai sosial, dan pengaruhnya di antara
anggota-anggota masyarakat.
Teori
Pembentukan Pelapisan Sosial
Diferensiasi dan ketidaksamaan sosial mempunyai potensi
untuk menimbulkan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Diferensiasi sosial
merupakan pengelompokan masyarakat secara horizontal berdasarkan pada ciri-ciri
tertentu. Berbeda dengan ketidaksamaan sosial yang lebih menekankan pada
kemampuan untuk mengakses sumberdaya, diferensiasi lebih menekankan pada
kedudukan dan peranan.
Stratifikasi sosial dapat terjadi sejalan dengan proses
pertumbuhan atau dibentuk secara sengaja dibuat untuk mencapai tujuan bersama.
Seperti apa yang dikemukakan Karl Marx yaitu karena adanya pembagian kerja
dalam masyarakat, konflik sosial, dan hak kepemilikan.
Pembagian
Kerja
Jika dalam sebuah masyarakat terd`pat pembagian kerja, maka
akan terjadi ketergantungan antar individu yang satu dengan yang lain. Seorang
yang sukses dalam mengumpulkan semua sumber daya yang ada dan berhasil dalam
kedudukannya dalam sebuah masyarakat akan semakin banyak yang akan diraihnya.
Sedangkan yang bernasib buruk berada di posisi yang amat tidak menguntungkan.
Semua itu adalah penyebab terjadinya stratifikasi sosial yang berawal dari
ketidaksamaan dalam kekuasaan dalam mengakses sumber daya.
Menurut
Bierstedt (1970) pembagian kerja adalah fungsi dari ukuran masyarakat
a)
Merupakan syarat perlu terbentuknya
kelas.
b)
Menghasilkan ragam posisi dan
peranan yang membawa pada ketidaksamaan sosial yang berakhir pada stratifikasi
sosial.
Konflik
Sosial
Konflik sosial di sini dianggap sebagai suatu usaha oleh
pelaku-pelaku untuk memperebutkan sesuatu yang dianggap langka dan berharga
dalam masyarakat. Pemenangnya adalah yang mendapatkan kekuasaan yang lebih
dibanding yang lain. Dari sinilah stratifikasi sosial lahir. Hal ini terjadi
karena terdapat perbedaan dalam pengaksesan suatu kekuasaan.
Hak
Kepemilikan
Hak kepemilikan adalah lanjutan dari konflik sosial yang
terjadi karena kelangkaan pada sumber daya. Maka yang memenangkan konflik
sosial akan mendapat akses dan kontrol lebih lebih dan terjadi kelangkaan pada
hak kepemilikan terhadap sumber daya tersebut.
Setelah semua akses yang ada mereka dapatkan, maka mereka akan mendapatkan kesempatan hidup (life change) dari yang lain. Lalu, mereka akan memiliki gaya hidup (life style) yang berbeda dari yang lain serta menunjukannya dalam simbol-simbol sosial tertentu.
Dasar Pelapisan Sosial
Setelah semua akses yang ada mereka dapatkan, maka mereka akan mendapatkan kesempatan hidup (life change) dari yang lain. Lalu, mereka akan memiliki gaya hidup (life style) yang berbeda dari yang lain serta menunjukannya dalam simbol-simbol sosial tertentu.
Dasar Pelapisan Sosial
Ukuran
atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat
ke dalam suatu lapisan. (Calhoun dalam Soekanto, 1990) adalah sebagai berikut :
1)
Ukuran kekayaan, barang siapa yang
memiliki kekayaan paling banyak, termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan
tersebut, misalnya : rumah, kerbau, sawah, dan tanah.
2)
Ukuran kekuasaan, barang siapa yang
memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar menempati lapisan
atas. Contoh: Pak Kades, Pak Carik, Tokoh masyarakat (Tomas).
3)
Ukuran kehormatan, orang yang paling
disegani dan dihormati, mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini banyak
dijumpai pada maysarakat tradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua atau
mereka yang pernah berjasa.
4)
Ukuran pengetahuan, pengetahuan
sebagai ukuran, dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.
Barang siapa yang berilmu maka dianggap sebagai orang pintar.
Sifat
Sistem Pelapisan Masyarakat
Sifat sistem pelapisan di dalam suatu masyarakat menurut
Soekanto (1990) dapat bersifat tertutup (closed social stratification) dan
terbuka (open social stratification). Sistem tertutup membatasi kemungkinan
pindahnya seseorang dalam suatu lapisan ke lapisan yang lain, baik yang
merupakan gerak ke atas maupun ke bawah. Di dalam sistem yang demikian,
satu-satunya jalan untuk menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah
kelahiran (mobilitas yang demikian sangat terbatas atau bahkan mungkin tidak
ada). Contoh masyarakat dengan sistem stratifikasi sosial tertutup adalah masyarakat
berkasta, sebagian masyarakat feodal atau masyarakat yang dasar stratifikasinya
tergantung pada perbedaan rasial.
Sistem terbuka, masyarakat di dalamnya memiliki kesempatan
untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau bagi mereka yang
tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan yang di bawahnya
(kemungkinan mobilitas sangat besar). Contohnya adalah dalam masyarakat
demokratis.
Unsur-Unsur
Lapisan Masyarakat
Hal yang mewujudkan unsur dalam teori sosiologi tentang
sistem lapisan masyarakat menurut Soekanto (1990) adalah kedudukan (status) dan
peranan (role).
Kedudukan
(status) diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok
sosial. Kedudukan sosial artinya tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya
sehubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestise-nya,
dan hak-hak serta kewajibannya.
Masyarakat
pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan, yaitu :
1)
Ascribed-status, yaitu kedudukan
seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan
kemampuan. Pada umumnya ascribed status dijumpai pada masyarakat dengan sistem
lapisan yang tertutup, misalnya masyarakat feodal (bangsawan, kasta)
2)
Achieved-status, yaitu kedudukan yang
dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini
bersifat terbuka bagi siapa saja, tergantung dari kemampuan masing-masing dalam
mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya. Misalnya, setiap orang dapat menjadi
hakim asalkan memenuhi persyaratan tertentu. Kadang-kadang dibedakan lagi satu
macam kedudukan, yaitu Assigned status yang merupakan kedudukan yang diberikan.
Assigned status sering memiliki hubungan erat dengan achieved stastus.
Peranan
(role) merupakan aspek dinamis kedudukan. Apabila seseorang melaksanakan hak
dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu
peranan. Peranan melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi
dalam pergaulan kemasyarakatan. Posisi seseorang dalam masyarakat merupakan
unsur statis yang menunjukkan tempat individu pada organisasi masyarakat.
Mobilitas
Sosial
Soekanto (1990) mendefinisikan gerak sosial sebagai suatu
gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi
suatu kelompok sosial. Sorokin (1959) dalam Soekanto (1990) menyebutkan ada dua
gerak sosial yang mendasar yaitu; pertama, gerak sosial horisontal yaitu
peralihan status individu atau kelompok dari suatu kelompok sosial lainnya yang
sederajat. Misalnya seorang petani kecil beralih menjadi pedagang kecil. Status
sosial tetap sama dan relatif bersifat stabil. Kedua, gerak sosial vertikal
yaitu peralihan individu atau kelompok dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan
lainnya yang tidak sederajat.
Sorokin
(1959) dalam Soekanto (1990) menyebutkan bahwa sesuai dengan arahnya gerak
sosial vertikal secara khusus dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1)
Gerak sosial vertikal naik (sosial
climbing(, berupa: masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah
ke dalam kedudukan yang lebih tinggi yang telah ada sebelumnya atau pembentukan
suatu kelompok baru yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi
dari kedudukan individu-individu pembentuk kelompok itu.
2)
Gerak sosial vertikal turun (sosial
sinking), berupa: turunnya kedudukan individu ke kedudukan yang lebih rendah
derajatnya atau turunnya derajat sekelompok individu yang dapat berupa suatu
disintegrasi dalam kelompok sebagai kesatuan.
Menurut Sorokin (1959) dalam Soekanto (1990) mobilitas
sosial vertikal mempunyai saluran-salurannya dalam masyarakat. Proses mobilitas
sosial vertikal yang melalui saluran tertentu dinamakan sirkulasi sosial.
Saluran yang terpenting di antaranya adalah angkatan bersenjata, lembaga
keagamaan (menaikkan kedudukan oarang-orang dari lapisan rendah), sekolah
(menjadi saluran gerak sosial vertikal bagi orang-orang dari lapisan rendah
yang berhasil masuk dari sekolah untuk orang-orang lapisan atas), organisasi
politik, ekonomi, keahlian, dan perkawinan.
Contoh Studi Lapang di Kampung Cikadongdong, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Infrakstruktur
Gambaran
Umum Kampung Cikadongdong
Kampung
Cikadongdong merupakan bagian dari Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang,
Bogor. Kampung ini secara teretorial berada pada wilayah Dusun II, RW. 9,
Kampung Cikadongdong terdiri dari 2 RT. Berpenduduk 47 KK, dengan jumlah
penduduk sekitar ± 473 jiwa. Adapun batas-batas Kampung Cikadongdong:
1)
Utara : Kampung Batu Beulah
2)
Selatan : Kampung Cigamea
3)
Timur : Kampung Cimanggu
4)
Barat : Kali Cianten
Mata
Pencaharian Masyarakat Kampung Cikadongdong
Sebagian besar masyarakat kampung Cikadongdong bekerja
sebagai buruh serabutan dan penggarap sawah, hal ini disebabkan karena
kurangnya lahan persawahan yang berada di Kampung Cikadongdong sehingga
mayoritas dari mereka memilih untuk bekerja sebagai buruh serabutan di beberapa
daerah di luar Kampung Cikadongdong. Namun, ada juga yang bekerja sebagai
peternak kambing, pengrajin kusen, tukang ojek, kuli bangunan, pedagang.
Sarana dan Prasarana Kampung Cikadongdong
Sarana dan Prasarana Kampung Cikadongdong
Kampung Cikadongdong merupakan bagian kecil dari Desa Situ
Udik, sehingga untuk sarana dan prasarana yang tersedia di kampung ini tidaklah
begitu lengkap, namun tetap ada. Sarana dan prasarana yang tersedia di kampung
Cikadongdong di antaranya terdapat masjid, lapangan sepak bola, pos ronda, dan
sarana irigasi. Sebagian besar masyarakat Kampung Cikadongdong telah memiliki
media informasi elektronik sendiri, seperti televisi, VCD, dan radio.
Suprastruktur
Sejarah
Kampung
Nama Kampung Cikadongdong menurut persepsi mitos masyarakat
setempat, dikarenakan pada zaman dahulu tedapat sebuah pohon kedondong besar
yang tumbuh di dalam wilayah kampung tersebut, sehingga masyarakat memberi nama
kampung tersebut Kampung Cikadongdong. Pada mulanya Kampung Cikadongdong hanya
ditinggali oleh empat kdpala keluarga. Mereka adalah keluarga Bapak Oyot
Traimah, keluarga Bapak Jaison, keluarga Bapak Salihin, dan keluarga Bapak
Satian. Dari keempat KK inilah kemudian terjadi sebuah regenerasi aktif yang
hingga kini mencapai 47 KK.
Karateristik
Masyarakat
Mayoritas masyarakat Kampung Cikadongdong merupakan warga
asli daerah Desa Situ Udik, sehingga tingkat kekerabatan di antara mereka masih
sangat tinggi (genealogis), misalnya saja dapat kita lihat dari persebaran
bangunan perumahan yang pada umumnya rumah-rumah yang bersebelahan adalah masih
mempunyai hubungan secara keluarga. Sebagai contoh, Pak Mukhlis yang menjabat
sebagai Ketua RT rumahnya berdekatan dengan rumah ibunya dan empat saudaranya
yang saling bersebelahan satu sama lain. Masyarakat Kampung Cikadongdong sangat
memegang teguh prinsip gotong-royong dan musyawarah untuk mufakat dalam
kehidupan sehari-harinya, hal ini terlihat ketika akan memperbaiki Marjid Darrusalaam.
Sebelum memulai pekerjaan mereka bermusyawarah untuk membahas pembelian
material dan kemudian dalam melakukan perbaikan pun dikerjakan secara gotong
royong oleh masyarakat setempat.
Secara garis besar, mayoritas kehidupan masyarakat di
kampung ini dilandasi oleh nilai-nilai religius yang kuat. Hal ini dibuktikan
seluruh masyarakat Kampung Cikadongdong menganut agama yang sama yaitu Islam.
Kegiatan majelis ta’lim dan pengajian selalu diadakan rutin mingguan, dengan
seorang kyai yang memimpin kegiatan tersebut.
Rata-rata pendidikan masyarakat Kampung Cikadongdong hanya
sampai jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) saja, namun ada juga lulusan
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menenah Atas (SMA) yang jumlahnya
sedikit dan jarang. Hal ini umumnya disebabkan faktor ekonomi keluarga yang
tidak mendukung untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,
karena faktor keterbatasan biaya sekolah. Sebagian besar masyarakat Kampung
Cikadongdong bermata pencaharian sebagai buruh tani, karena hanya sebagian
kecil saja m`syarakat Kampung Cikadongdong yang memiliki sawah sendiri.
Pelapisan
Masyarakat
Pelapisan masyarakat di Kampung Cikadongdong merupakan
pelapisan sosial terbuka yang memberikan peluang pada warganya untuk mengadakan
gerak perubahan di dalam pelapisan sosial, sehingga individu-individu dalam
sistem sosial kemasyarakatan mempunyai peluang untuk melakukan mobilisasi
sosial/ gerak sosial. Pelapisan sosial tersebut didasarkan oleh tingkat
pengetahuan, kehormatan, kekuasaan, dan kekayaan yang dimiliki oleh individu
dalam masyarakat, dimana biasanya individu tersebut mempunyai akses terhadap
sumber daya.
Dari empat dasar tersebut yang paling dominan di Kampung
Cikadongdong adalah dasar pengetahuan; yaitu pengetahuan religius tentang Agama
Islam. Secara faktual di lapangan, memang pembedaan dan ketidaksamaan sudah
terjadi secara otomatis dalam hal yang bertalian dengan umur dan jenis kelamin
(sex) yang merupakan pembedaan yang melekat semenjak mereka lahir, cara
pembedaan ini merupakan sebuah bentuk konsekuensi logis dari adanya pembedaan
di atas yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Kedekatan tempat tinggal (dalam
hal ini hubungannya dengan akses) turut menjadi faktor penentu ”kemudahan”
hidup sesorang. Barang siapa yang rumahnya berdekatan dengan rumah Pak RT,
tokoh masyarakat, “elite lokal”, tentunya akses informasi (komunikasi) menjadi
mudah, misalnya ketika pemberian bantuan subsidi tunai (BLT dari penarikan
subsidi BBM), orang-orang yang bertempat tinggal di sebelah Pak RT tentunya
akan mengetahui lebih cepat daripada orang-orang yang bertempat tinggal jauh
dari rumah Pak RT.
Diferensiasi
dan Ketidaksamaan Sosial
Diferensiasi dan ketidaksamaan sosial merupakan hal pokok
yang pasti ada ketika kita membahas stratifikasi sosial. Ketika ada pembedaan
dan ketidaksamaan dalam masyarakat, pandangan Marxist menyatakan tentunya
menyebabkan masyarakat tersebut menjadi berkelas-kelas/bertingkat-tingkat,
sehingga muncul pelapisan-pelapisan dalam masyarakat. Ada yang berada pada
golongan atas, menengah dan bawah, yang mempunyai kemampuan untuk mengakses
“sumber daya” berbeda-beda, dimana kelas lapisan atas lebih mendominasi
daripada kelas menengah atau bahkan kelas bawah. Ada kecenderungan golongan
bawah untuk berusaha naik menggantikan kedudukan golongan atas dan golongan
atas juga berusaha mempertahankan posisinya bahkan lebih meningkatkan lagi,
akan tetapi tidak menutup kemungkinan bagi lapisan golongan atas untuk turun
menjadi golongan menengah bahkan golongan bawah dengan beberapa faktor yang
dapat menyebabkan semua ini terjadi. Adapun yang kami temukan di Kampung
Cikadongdong, diferensiasi dan ketidaksamaan sosial mengacu pada:
1)
Pengetahuan (pondok pesantren)
2)
Jenis Kelamin (alamiah).
3)
Umur (alamiah).
4)
Kekayaan.
5)
Kedekatan wilayah tempat tinggal
dengan elit lokal.
Diferensiasi
Sosial
Penjelasan
lebih lanjut mengenai diferensiasi sosial yang kami temukan di Kampung
Cikadongdong adalah sebagai berikut:
1)
Jenis Kelamin: di Kampung
Cikadongdong laki-laki dipandang lebih bisa untuk menjadi pemimpin dibandingkan
perempuan, karena menurut pandangan mereka kaum pria mempunyai figur yang lebih
kuat untuk bisa dijadikan seorang pemimpin dalam membimbing kaum wanita dan
anak-anak di kesehariannya, juga selain itu masyarakat Kampung Cikadongdong
berusaha untuk menerapkan apa yang terkandung dalam ajaran Islam, bahwa kaum
pria lebih kuat dibandingkan kaum wanita. Contohnya bisa menjadi imam masjid
sedangkan perempuan yang dipimpin atau dengan kata lain jadi makmumnya.
2)
Umur: di Kampung Cikadongdong orang
yang lebih tua akan lebih dihormati oleh masyarakat setempat karena mereka
menggolongkan orang yang dianggap lebih tua itu kepada kaum sesepuh yang patut
untuk banyak didengarkan nasihat-nasihat dari mereka. Contohnya dalam kerja
bakti orang tua yang mengatur pekerjaan anak mudanya.
3)
Pengetahuan: orang yang mempunyai
pengetahuan ilmu agama yang lebih mapan akan lebih dipercaya untuk memimpin
kegiatan yang bersifat religius sehingga mereka bisa menyalurkan ilmu agama
yang mereka miliki kepada masyarakat Kampung Cikadongdong. Contohnya lulusan
pesantren lebih dipercaya untuk menjadi imam di masjid.
4)
Kekayaan: kepemilikan seseorang
terhadap sumber daya yang berkaitan dengan hal kekayaan yang dimiliki oleh beberapa
orang di kampung tersebut, dapat membantu warga setempat untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya sehari-hari, sehingga pada kenyataannya warga tidak begitu
kesulitan dalam mencukupi kebutuhannya baik primer maupun yang sekunder.
Contohnya banyak warga yang membeli kebutuhan hidupnya di warung-warung
terdekat.
5)
Kedekatan wilayah: orang-orang yang
tinggal dekat dengan kepala RT dan tokoh masyarakat lainnya dapat membantu
dalam penyebaran informasi tentang suatu hal, sehingga informasi tersebut dapat
mencapai tujuan yaitu kepada penduduk yang lain dengan lebih cepat tersebar
secara merata.
Ketidaksamaan
Sosial
Ketidaksamaan
sosial yang terdapat di Kampung Cikadongdong antara lain:
1)
Jenis kelamin: karena laki-laki
lebih sering shalat di masjid dibandingkan perempuan maka laki-laki lebih cepat
menerima informasi-informasi penting yang disampaikan di masjid, baik
disampaikan secara langsung (dari mimbar masjid) oleh kyai maupun dari
interaksinya dengan orang lain ketika berada di lingkungan masjid.
2)
Umur: orang yang lebih tua umumnya
akan mendapat pengetahuan lebih cepat dari anak muda karena mereka biasa
menganggap suatu hal yang baru lebih serius daripada anak muda yang masih
menganggap hal seperti itu sebagai hal yang kurang begitu penting bagi mereka
dengan tidak memikirkan apa dampak yang akan terjadi bagi mereka.
3)
Pengetahuan: orang yang memiliki
pengetahuan agama yang lebih mapan akan lebih cepat dalam mengambil tindakan
tentang suatu hal yang berkaitan dengan masalah agama yang terjadi di Kampung
Cikadongdong daripada orang yang tidak memiliki pengetahuan agama, karena
mereka akan lebih cenderung untuk hanya mengikuti dalam penyeselaian masalah
tersebut.
4)
Kekayaan: orang yang memiliki modal
untuk berwirausaha atau harta akan lebih mudah mengakses sumber daya
dibandingkan orang yang tidak memiliki apa-apa karena intensitas mereka yang
lebih banyak untuk bertemu dengan orang-orang yang berada di lapisan manapun.
5)
Kedekatan wilayah: orang yang
bertempat tinggal dekat ketua RT atau tokoh masyarakat akan lebih cepat
memperoleh informasi daripada yang tinggal lebih jauh dan bisa turut berperan
sebagai penyebar informasi yang ada kepada masyarakat yang lainnya.
Dasar-Dasar Terjadinya Stratifikasi Sosial di Kampung Cikadongdong
Dasar-Dasar Terjadinya Stratifikasi Sosial di Kampung Cikadongdong
Dasar
Kekayaan
Suatu masyarakat yang memiliki kekayaan cukup banyak dapat
dikategorikan termasuk orang yang cukup terpandang oleh sekitarnya. Ukuran
kekayaan itu dapat dilihat dari kepemilikan tanah, mobil pribadi dan
sebagainya. Namun, pada penelitian yang kami lakukan di Kampung Cikadongdong
tidak ditemukan ukuran kekayaan yang seperti disebutkan di atas. Untuk
masyarakat yang terpandang karena kekayaan, ukuran kekayaannya dapat dilihat
dari kepemilikan mereka terhadap luas lahan perrawahan, ternak kambing maupun
kerbau, pendapatan dari usaha sendiri seperti toko. Sebagai contoh yang kami
temukan di lapangan yaitu Bapak Shidiq yang memiliki sebidang lahan sawah dan
ternak kerbau sendiri. Kadang-kadang kerbau beliau ini disewakan untuk
kepentingan persawahan. Selain itu, ada juga bapak Uci yang memiliki usaha
sendiri yaitu toko.
Dasar
Kekuasaan
Di Kampung Cikadongdong, masyarakat yang memiliki kekuasaan
dalam politik lokal setempat atau yang mempunyai wewenang besar dalam
memutuskan suatu perkara mengenai masyarakat akan lebih dihormati
keberadaannya. Sebagai contoh yang kami temukan di lapangan adalah Pak Mukhlis
dalam hal ini beliau menjabat sebagai Ketua RT dan Pak Harun. Oleh karena
keberadaan mereka sangat berarti dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat,
maka kekuasaan ini dapat dijadikan modal penting untuk mengatur kehidupan antar
warga Kampung Cikadongdong.
Dasar
Kehormatan
Pada umumnya orang yang paling dihormati oleh masyarakat
Kampung Cikadongdong adalah orang-orang yang termasuk ke dalam golongan tua,
karena anggapan masyarakat setempat mereka mempunyai pengalaman hidup yang
lebih banyak dibandingkan dengan kaum yang masih muda dan juga mereka
beranggapan bahwa orang yang termasuk ke dalam golongna tua itu di dalam
riwayat hidupnya pernah berjasa terhadap keberadaan Kampung Cikadongdong.
Sebagai contoh dalam hal ini adalah Ibu Asni, beliau termasuk salah satu warga
yang dihormati dan disegani karena dengan melihat usianya belhau dianggap
sebagai orang yang dituakan oleh masyarakat setempat. Mengingat masih
berlakunya sebuah norma, bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang yang
lebih tua.
Dasar
Pengetahuan
Di Kampung Cikadongdong, masyarakat menempatkan orang yang
memiliki pengetahuan agama tinggi sebagai orang yang paling dihormati. Hal ini
disebabkan karena keadaan religius masyarakat setempat yang sangat kuat dengan
dibuktikan seluruh penduduk Kampung Cikadongdong memeluk agama Islam. Sebagai
contohnya Bapak Haji Ujang, beliau adalah seorang lulusan pesantren dan juga
selain itu beliau mengajar ngaji dari anak-anak kecil di kampung tersebut.
Bahkan tidak hanya anak kecil, beliau juga sering memberi nasihat kepada para
ibu-ibu mengenai kehidupan berumah tangga ketika diadakannya pengajian untuk
ibu-ibu. Selain Pak Haji Ujang ada pula Ibu Hj. Masrini, sama halnya dengan Pak
Haji Ujang beliau juga sering memberikan nasihat kepada ibu-ibu setempat dalam
pengajian.
Startifikasi
Sosial Dalam Dinamika Sosial
Dinamika
Ekonomi
Ada beberapa kaum pemuda Kampung Cikadongdong yang merasa
dirinya kurang bisa memenuhi kebutuhan kehidupannya di dalam bidang ekonomi,
sehingga kaum pemuda tersebut memilih jalan untuk melakukan migrasi ke kota
yang biasa dikenal dengan urbanisasi. Harapan yang dihasilkan dari migrasi ke
kota itu adalah mereka bisa mendapatkan penghasilan yang cukup atau lebih
dibandingkan penghasilan mereka yang ada di desa, sehingga adanya migrasi dapat
berpengaruh besar terhadap perubahan dinamika ekonomi di Kampung Cikadongdong.
Dinamika
Religi-Kultural
Masuknya budaya kota yang dianggap ”lebih” daripada budaya
kehidupan pedesaan seperti lifestyle atau gaya hidup yang berlebihan dari model
busana sampai teknologi ternyata tetap tidak mempengaruhi Religi-Kultural
Kampung cikadongdong, karena sebagian besar dari mereka tetap berpegang teguh
terhadap nilai agama dan budaya yang sangat kuat yaitu Islam. Meskipun dalam
kenyataannya ada juga para pemuda kampung tersebut yang mengikuti gaya hidup
perkotaan, namun secara keseluruhan nilai-nilai Dinamika Religi-Kultural di
Kampung Cikadongdong tidak banyak berubah.
Dinamika
Politik
Kancah dunia perpolitikan yang terjadi di Indonesia dengan
sistem multi partai yaitu 36 partai, ternyata tidak mempunyai pengaruh besar
terhadap dinamika perpolitikan lokal Kampung Cikadongdong. Walaupun keadaan
nyata yang terjadi di luar adalah Partai Golkar sebagai pemenang dalam Pemilu,
tetapi masyarakat Kampung Cikadongdong tetap teguh terhadap pilihan mereka,
yaitu mayoritas mereka memilih Partai Persatuan Pembangunan sebagai pilihan
mereka. Hal ini disebabkan selain partai tersebut dilambangkan Ka’bah sebagai
tolok ukur utama tentang Islam, tetapi juga disebabkan karena sebagian besar
dari mereka memilih dengan mengikuti pilihan dari tokoh masyarakat yang
dianggap disegani oleh warga setempat karena pengaruh dari tokoh masyarakat di
bidang religi tersebut yang sangat kuat, sehingga masyarakat lebih memilih
untuk mengikuti pilihan dari tokoh masyarakat yang ada.
Pelapisan
Masyarakat yang Ada di Kampung Cikadongdong
Bidang
Politik
Pada bidang politik adalah termasuk di dalamnya orang-orang
yang mempunyai kedudukan secara formal berkaitan dengan struktur pemerintahan
baik di Kampung Cikadongdong secara intern maupun hubungannya secara ekstern
dengan struktur pemerintahan pada tingkat desa. Dalam bidang politik di
Kampung Cikadongdong, orang yang kami kelompokkan berada di lapisan teratas
adalah:
1)
Kepala desa
Bapak Miftahul Lukman merupakan sosok pemimpin yang disegani
oleh masyarakat Desa Situ Udik, karena beliau adalah seorang kepala desa yang
bijaksana. Kedudukan beliau sebagai kepala desa membuat Pak Miftahul Lukman
bisa mempengaruhi masyarakat desa melalui adanya beberapa kebijaksanaan yang
beliau buat berkaitan penting dengan perkembangan desanya dan juga mempunyai
kewenangan secara formal terhadap struktur pemerintahan di tingkat desa. Pada
beberapa event penting kepala desa akan diundang untuk datang ke Kampung
Cikadongdong sehingga masyarakat setempat bisa mengenal siapa kepala desa
mereka. Selain dari itu, kepala desa juga akan turun tangan langsung jika di
Kampung Cikadongdong terjadi konflik sosial yang tidak bisa ditangani oleh
tokoh masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan suatu bukti bahwa kepala desa
cocok untuk ditempatkan pada posisi lapisan paling atas di bidang politik
secara formal.
2)
Kepala dusun 02
Kampung Cikadongdong secara struktur pemerintahan desa
berada di bawah suatu dusun; yaitu dusun 02, sehingga kepala dusun 02 mempunyai
kewenangan terhadap masyarakat kampung tersebut. Mayoritas masyarakat Kampung
Cikadongdong pun sangat menghormati keberadaan kepala dusun 02 di kalangan
masyarakat setempat.
3)
Kepala RW 09
Sebagaimana yang ada dalam struktur pemerintahan desa yang
telah disepakati, Kampung Cikadongdong juga masih dalam kewenangan seorang kepala
RW 09, sehingga masyarakat di kampung tersebut masih sangat menghormati dengan
kebijakan yang diputuskan oleh kepala RW untuk kesejahteraan masyarakat.
Di lapisan kedua dalam bidang politik, kami mengelompokkan
Kepala RT 05 dan RT 06 secara formal karena mereka tetap mempunyai kaitan
secara langsung dengan pihak yang lebih atas dalam struktur pemerintahan desa
yaitu dalam hal ini kepala RW untuk melaksanakan tugas administrasinya sebagai
kepala RT. Selain itu, yang kami tempatkan pada lapisan menengah adalah tokoh
masyarakat sekiitar yang dihormati keberadaan mereka dalam masyarakat walaupun
secara informal karena mereka memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi masyarakat
dalam mendukung terciptanya suasana yang teratur di lingkungan tersebut.
Dan di lapisan paling bawah kami kelompokkan kepala keluarga
karena pemerintahan paling sederhana di masyarakat adalah di tingkat keluarga
dan kepala keluargalah yang memiliki andil paling besar di dalam keluarga,
sehingga kepala keluarga mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap
keluarganya baik secara material maupun immaterial.
Bidang
Ekonomi
Pada bidang ekonomi, yang menjadi ukuran terdeferensiasinya
suatu masyarakat adalah kepemilikan seseorang terhadap suatu sumber daya yang
bisa menghasilkan keuntungan, baik secara materiil maupun immateriil. Kami
mengelompokkan orang-orang masyarakat Kampung Cikadongdong ke dalam lapisan
yang teratas yakni:
1)
Orang-orang yang mempunyai sawah
karena lahan persawahan adalah sebagai tempat penting bagi masyarakat setempat
untuk mengais kehidupan di kampung tersebut.
2)
Orang-orang yang mempunyai toko
karena toko juga merupakan lahan bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan
secara meteriil bagi sang pemilik toko.
3)
Orang-orang yang mempunyai kerbau
karena pandangan penduduk setempat siapa yang bisa untuk membeli kerbau adalah
hanya orang-orang yang beruang saja, bahkan dengan adanya kerbau si pemilik
bisa menyewakannya untuk menggarap sawah.
Pada
lapisan menengah kami menempatkan:
1)
Orang yang bekerja sebagai tukang
ojek karena walaupun mereka tidak memiliki komoditas yang besar untuk mencari
penghasilan tetapi dengan bekerja sebagai tukang ojek mereka setidaknya bisa
mencukupi kehidupannya sehari-hari dengan jerih payah keringatnya sendiri.
Sebagian besar tukang ojek di Kampung Cikadongdong membeli motor dengan cara
kredit, sehingga dengan penghasilan yang mereka dapatkan mereka juga masih
mempunyai kewajiban untuk melunasi uang kreditan motor tiap bulannya.
2)
Orang yang memiliki warung. Berbeda
dengan toko, yang disebut warung di sini adalah yang berukuran yang lebih kecil
dan yang disediakan juga relatif seadanya atau kurang lengkap.
Sedangkan
untuk pelapisan di tingkat bawah ditempati oleh buruh tani karena tidak
mempunyai lahan atau tempat usaha yang tetap bahkan alat transportasi yang
memadai.
Di Kampung Cikadongdong terlihat jelas pelapisannya
berdasarkan religi-kultural, dikarenakan pada intinya Kampung Cikadongdong
merupakan bagian dari Desa Situ Udik yang dilangsir merupakan desa yang religius,
selain itu juga disebabkan karena masyarakat di kampung tersebut seluruhnya
memeluk Agama Islam. Pelapisan pada tingkat atas kami menempatkan Ustadz/Haji
yang menjadi pengajar, dengan alasan karena mereka termasuk orang-orang yang
paling utama mempunyai pengetahuan yang tinggi dalam hal agama. Terbukti dengan
terpercayanya mereka untuk dapat mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat
Kampung Cikadongdong pada khususnya atau juga terkadang mereka juga mangajarkan
di luar kampung tersebut.
Pada lapisan yang menengah kami menempatkan orang yang
lulusan pesantren tetapi tidak mengajar. Dalam hal ini kami merasakan adanya
rasa segan yang tinggi dari masyarakat setempat karena merupakan mereka
termasuk orang lulusan pesantren walaupun tidak mengajar ilmu agama bagi
masyarakat. Sedangkan untuk lapisan pada tingkatan yang paling bawah kami
menempatkan santri atau yang menjadi murid-murid para guru ngaji setempat.
Mobilisasi Sosial di Kampung Cikadongdong
Mobilisasi Sosial di Kampung Cikadongdong
Terjadinya
Mobilisasi Sosial di Kampung Cikadongdong
Pergerakan sosial atau yang biasa disebut dengan mobilitas
sosial kerap terjadi antar lapisan masyarakat yang ada pada Kampung
Cikadongdong, baik dari lapisan yang bawah naik menjadi lapisan menengah atau
ke lapisan teratas bahkan sebaliknya. Gerak sosial horisontal yaitu peralihan
status individu atau kelompok dari suatu kelompok sosial lainnya yang
sederajat. Sebagai contohnya adalah Pak Isa yang pada awalnya bekerja sebagai
tukang becak di Jakarta tetapi karena telah diberlakukannya peraturan dilarangnya
becak beroperasi di Jakarta maka Pak Isa kembali ke kampung dan membuka usaha
sendiri yaitu memproduksi krupuk pangsit kecil-kecilan.
Menurut kajian yang telah kami lakukan bahwa dari banyaknya
mobilitas sosial yang terjadi di masyarakat tersebut sebagian besar didominasi
oleh pergerakan dari orang-orang yang termasuk lapisan bawah atau menengah naik
ke lapisan yang atas (sosial climbing), sedangkan sangat sedikit terjadi
mobilitas sosial ke bawah (sosial sinking).
Sebagai
contoh gerak sosial vertikal naik (sosial climbing) adalah:
1)
Pak Haji Ujang menjadi orang yang
cukup terpandang di Kampung Cikadongdong karena pengetahuan dalam bidang agama
yang diperolehnya dari pesantren tempat ia menuntut ilmu cukup meningkat
dibandingkan sebelumnya.
2)
Ibu Wawat menjadi warga yang cukup
disegani karena ia menikah dengan Pak Uci yang memiliki toko yang cukup besar.
Sehingga ia memiliki cukup uang untuk membantu warga disekitarnya dengan cara
memberikan sumbangan kepada janda dan anak yatim.
3)
Pak Mukhlis cukup disegani karena
beliau belum lama ini menjabat sebagai Ketua RT. Selain itu beliau cukup
disegani karena pengetahuan yang dimilikinya dalam hal mendirikan bangunan.
Dan
sebagai contoh untuk gerak sosial vertikal turun (social sinking) adalah:
1)
Mbah Isran dulu cukup dipandang
karena kemampuannya mengobati orang yang sakit melalui ilmu perdukunannya.
Tetapi karena perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki masyarakat sudah
cukup meningkat maka mereka lebih mempercayai bidang kedokteraan dalam berbagai
masalah kesehatan maupun penyakit yang tejadi disekitar lingkungan masyarakat
kampung Cikadongdong. Saat ini, Mbah Isran bekerja sebagai penjaga tambak ikan
air tawar milik orang lain.
2)
Pak Sumpena mengalami mobilitas
sosial sinking karena beliau sudah tidak menjabat sebagai ketua RT lagi. Saat
ini, beliau bekerja sebagai petani penggarap.
Faktor-Faktor
Penyebab Mobilitas Sosial
Beberapa
faktor yang menyebabkan gerak sosial naik terjadi adalah:
1)
Atas dasar kekuasaaan; karena dengan
kekuasaan yang mereka miliki, mereka dapat lebih menguasai dalam hal struktur
pemerintahan terhadap masyarakat Kampung Cikadongdong. Selain itu, dalam hal
kekuasaan mencakup di dalamnya faktor tentang politik lokal.
2)
Atas dasar pengetahuan (ilmu agama);
karena makin banyaknya ilmu pengetahuan tentang agama yang dimiliki oleh
seseorang, maka orang tersebut dapat melakukan gerak sosial dari lapisan yang
bawah menjadi lapisan yang lebih tinggi. Selain itu, dalam hal pengetahuan juga
mencakup di dalamnya tentang religi-kultural setempat.
3)
Atas dasar kekayaan; karena dengan
kekayaan mereka bisa untuk menyekolahkan anak mereka, sehingga mereka pun akan
melakukan gerak sosial dari lapisan bawah menjadi lapisan yang lebih atas lagi.
Beberapa
faktor yang menyebabkan gerak sosial turun terjadi adalah:
1)
Atas dasar religi-kultural; karena
suasana religi sudah sangat menjamur di Kampung Cikadondong, maka ilmu mengenai
perdukunan sudah tidak dipercaya lagi keafsahannya. Akibat dari itu semua, beberapa
orang yang dahulu sempat dianggap memiliki ilmu tersebut sekarang sudah tidak
disegani lagi.
2) Atas dasar kekuasaan; karena masa
jabatan suatu pemerintahan ditentukan secara berkala, maka orang-orang yang
telah habis masa jabtannya mereka secara otomatis akan melakukan mobilitas
sosial turun.
Dampak
Stratifikasi Sosial dalam Kehidupan Masyarakat
Dalam lingkungan masyarakat kita melihat bahwa ada
pembeda-bedaan yang berlaku dan diterima secara luas oleh masyarakat. Di
sekitar kita ada orang yang menempati jabatan tinggi seperti gubernur dan wali
kota dan jabatan rendah seperti camat dan lurah. Di sekolah ada kepala sekolah
dan ada staf sekolah. Di rt atau rw kita ada orang kaya, orang biasa saja dan
ada orang miskin. Perbedaan itu tidak hanya muncul dari sisi jabatan
tanggung jawab sosial saja, namun juga terjadi akibat perbedaan ciri fisik,
keyakinan dan lain-lain. Perbedaan ras, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin,
usia atau umur, kemampuan, tinggi badan, cakep jelek, dan lain sebagainya juga
membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Beragamnya orang yang ada
di suatu lingkungan akan memunculkan stratifikasi sosial (pengkelas-kelasan)
atau diferensiasi sosial (pembeda-bedaan).
statifikasi sosial menurut max weber adalah
stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu
sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi
kekuasaan, privilese dan prestise, dan Stratifikasi sosial ini memiliki
dampak positif maupun Negatif yaitu :
Dampak Positif :
Orang - orang akan berusaha untuk
berprestasi atau berusaha maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata
contoh : seorang anak miskin berusaha berlajar dengan giat agar mendapatkan
kekayaan dimasa depan.
Dampak
Negatif :
Dampak
Negatif ada 3 aspek yaitu :
1)
Konflik antar Kelas
2)
Konflik Antar
Kelompok Sosial
3)
Konflik Antar
Generasi
Konflik Antar Kelas
Dalam Masyarakat, terdapat lapisan - lapisan sosial karena
ukuran - ukuran seperti kekayaan, kekuasaan dan pendidikan. Kelompok dalam
lapisan - lapisan tadi disebut kelas - kelas sosial, apabila terjadi perbedaan
kepentingan maka akan muncul konflik antar kelas
Contoh
: Demontrasi buruh yang menuntut kenaikan upah, menggambarkan adanya konflik
antar kelas antara buruh dengan pengusaha
Konflik
antar kelompok sosial
Di dalam masyarakat terdapat pula kelompok sosial yang
beraneka ragam diantaranya, kelompok sosial berdasarkan ideologi, profesi,
agama, suku dan ras. Bila, salah satu kelompok berusaha untuk menguasai
kelompok lain makan akan terjadi pemaksaan
Contoh
: Tawuran antar pelajar.
Konflik
Antargenerasi
Konflik antar generasi terjadi antar generasi tua yang
mempertahankan nilai - nilai lama dan generasi muda yang ingin mengadakan
perubahan
Contoh
: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan oleh generasi muda tetapi
bertentangan dengan generasi tua.
PENGARUH
STRATIFIKASI SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
Dalam kehidupan bermasyarakat, stratifikasi social sangatlah
berpengaruh. Sebelum membahas lebih lanjut berikut adalah macam-macam definisi
stratifikasi social :
Pitirim
A. Sorokin stratifikasi
social adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam lapisan kelas-kelas
secara bertingkat.
Drs. Robert M.Z lawang stratifikasi social adalah penggolongan orang-orang yang
termasuk dalam suatu system social tertentu kedalam lapisan-lapisan hierarkis
menurut dimensi kekuasaan, previlese, prestise.
Stratifikasi social dapat terjadi dengan sengaja maupun
tidak disengaja (terjadi dengan sendirinya). Sebagai contoh dalam kehidupan
masyarakat bali yang masih menganut system kasta dalam kehidupannya, mereka
membagi golongan masyarakat dengan tingkatan-tingkatan tertentu mulai dari
pemuka agama, bangsawan/pegawai pemerintah dan masyarakat biasa. Dalam
penggolongan terdapat beberapa tingkatan :
Upper
class
Middle
class
Lower
class
Dalam masyarakat bali pada zaman sekarang system kasta yang
di anut ialah system kasta terbuka, jadi setiap masyarakat dapat berpindah
kedudukan mulai dari lower class sampai upper class. Sebagai contoh, seorang
anak petani yang yang awalnya dari lower class kemudian bersekolah hingga ke
peguruan tinggi kedokteran lalu lulus dengan nilai sempurna dan ia pun sukses
dalam bidangnya dan berubah tingkat menjadi upper class. Dalam stratifikasi
social terdapat perpindahan / mobilitas. Dan mobilitas terbagi menjadi 2, yaitu
:
Mobilitas vertikal·
Mobilitas horizontal·
Dapat
dilihat dari criteria yang dipakai dalam melihat klasifikasi social dalam
kehidupan masyarakat, diantaranya :
-
Segi kekayaan dapat dilihat dari
pola hidup,harta yang mereka miliki serta menempati posisi paling atas dalam
kehidupan masyarakat. Misalnya, fasilitas pribadi yang dimilikinya.
-
Segi pendidikan, dapat dilihat dari
tingkat pendidikan yang telah ditempuh oleh sesorang, karena semakin tinggi
pendidikan seseorang, semakin tinggi pula kedudukan pada masyarakat.
-
Segi kekuasaan, dapat dilihat betapa
berpengaruh seseorang yang mempunyai kekuasaan dalam masyarakat, karena dia
dapat memiliki wewenag dalam kehidupan masyarakat. Misalnya seorang presiden
yang meniliki wewenang atas Negara dan rakyatnya.




luarbiasa
ReplyDeleteterima kasih... senang bisa membantu...
Delete