Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Daftar Candi yang ada di Mojokerto (Beserta Gambar dan Penjelasan)

Posted by Rochim


CANDI TIKUS (TROWULAN)
Candi ini terletak di kompleks Trowulan, sekitar 13 km di sebelah tenggara kota Mojokerto. Dari jalan raya Mojokerto-Jombang, di perempatan Trowulan, membelok ke timur, melewati Kolam Segaran dan Candi Bajangratu yang terletak di sebelah kiri jalan. Candi Tikus juga terletak di sisi kiri jalan, sekitar 600 m dari Candi Bajangratu.
Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914. Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985. Nama ‘Tikus’ hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat. Konon, pada saat ditemukan, tempat candi tersebut berada merupakan sarang tikus.
Belum didapatkan sumber informasi tertulis yang menerangkan secara jelas tentang kapan, untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun. Akan tetapi dengan adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad ke-13 sampai ke-14 M, karena miniatur menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu.
Bentuk Candi Tikus yang mirip sebuah petirtaan mengundang perdebatan di kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya. Sebagian pakar berpendapat bahwa candi ini merupakan petirtaan, tempat mandi keluarga raja, namun sebagian pakar ada yang berpendapat bahwa bangunan tersebut merupakan tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan. Namun, menaranya yang berbentuk meru menimbulkan dugaan bahwa bangunan candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan.
Bangunan Candi Tikus menyerupai sebuah petirtaan atau pemandian, yaitu sebuah kolam dengan beberapa bangunan di dalamnya. Hampir seluruh bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m ini terbuat dari batu bata merah. Yang menarik, adalah letaknya yang lebih rendah sekitar 3,5 m dari permukaan tanah sekitarnya. Di permukaan paling atas terdapat selasar selebar sekitar 75 cm yang mengelilingi bangunan. Di sisi dalam, turun sekitar 1 m, terdapat selasar yang lebih lebar mengelilingi tepi kolam. Pintu masuk ke candi terdapat di sisi utara, berupa tangga selebar 3,5 m menuju ke dasar kolam.
Di kiri dan kanan kaki tangga terdapat kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 m x 2 m dengan kedalaman 1,5 m. Pada dinding luar masing-masing kolam berjajar tiga buah pancuran berbentuk padma (teratai) yang terbuat dari batu andesit.
Tepat menghadap ke anak tangga, agak masuk ke sisi selatan, terdapat sebuah bangunan persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Di atas bangunan ini terdapat sebuah ‘menara’ setinggi sekitar 2 m dengan atap berbentuk meru dengan puncak datar. Menara yang terletak di tengah bangunan ini dikelilingi oleh 8 menara sejenis yang berukuran lebih kecil. Di sekeliling dinding kaki bangunan berjajar 17 pancuran (jaladwara) berbentuk bunga teratai dan makara.
Hal lain yang menarik ialah adanya dua jenis batu bata dengan ukuran yang berbeda yang digunakan dalam pembangunan candi ini. Kaki candi terdiri atas susunan bata merah berukuran besar yang ditutup dengan susunan bata merah yang berukuran lebih kecil. Selain kaki bangunan, pancuran air yang terdapat di candi inipun ada dua jenis, yang terbuat dari bata dan yang terbuat dari batu andesit.
Perbedaan bahan bangunan yang digunakan tersebut menimbulkan dugaan bahwa Candi Tikus dibangun melalui tahap. Dalam pembangunan kaki candi tahap pertama digunakan batu bata merah berukuran besar, sedangkan dalam tahap kedua digunakan bata merah berukuran lebih kecil. Dengan kata lain, bata merah yang berukuran lebih besar usianya lebih tua dibandingkan dengan usia yang lebih kecil. Pancuran air yang terbuat dari bata merah diperkirakan dibuat dalam tahap pertama, karena bentuknya yang masih kaku. Pancuran dari batu andesit yang lebih halus pahatannya diperkirakan dibuat dalam tahap kedua. Walaupun demikian, tidak diketahui secara pasti kapan kedua tahap pembangunan tersebut dilaksanakan.
Berikut Beberapa Gambar Candi Tikus (Trowulan) :

 

CANDI BRAHU (TROWULAN)
Candi Brahu merupakan salah satu candi yang terletak di dalam kawasan situs arkeologi Trowulan, bekas ibu kota Majapahit. Tepatnya, candi ini berada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, atau sekitar dua kilometer ke arah utara dari jalan raya Mojokerto—Jombang.Nama candi ini, yaitu 'brahu', diduga berasal dari kata wanaru atau warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Alasantan. Prasasti tersebut ditemukan tak jauh dari Candi Brahu.
Candi Brahu dibangun dengan batu bata merah, menghadap ke arah barat dan berukuran panjang sekitar 22,5 m, dengan lebar 18 m, dan berketinggian 20 meter.
Candi Brahu dibangun dengan gaya dan kultur Budha. Diperkirakan, candi ini didirikan pada abad ke-15 Masehi meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa candi ini berusia jauh lebih tua daripada candi-candi lain di sekitar Trowulan.
Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok bertanggal 9 September 939 (861 Saka), Candi Brahu disebut merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja. Akan tetapi, dalam penelitian tak ada satu pakar pun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Hal ini diverifikasi setelah dilakukan pemugaran candi pada tahun 1990 hingga 1995.Diduga di sekitar candi ini banyak terdapat candi-candi kecil. Sisa-sisanya yang sebagian sudah runtuh masih ada, seperti Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong. Saat penggalian dilakukan di sekitar candi banyak ditemukan benda benda kuna, semacam alat-alat upacara keagamaan dari logam, perhiasan dari emas, arca, dan lain-lainnya.
Berikut Beberapa Gambar Candi Brahu (Trowulan) :


CANDI BAJANG RATU (TROWULAN)
Gapura Bajang Ratu atau juga dikenal dengan nama Candi Bajang Ratu adalah sebuah gapura / candi peninggalan Majapahit yang berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia.
Nama Bajangratu pertama kali disebut dalam Oudheidkunding Verslag (OV) tahun 1915. Arkeolog Sri Soeyatmi Satari menduga nama Bajangratu ada hubungannya dengan Raja Jayanegara dari Majapahit, karena kata 'bajang' berarti kerdil. Menurut Kitab Pararaton dan cerita rakyat, Jayanegara dinobatkan tatkala masih berusia bajang atau masih kecil, sehingga gelar Ratu Bajang atau Bajangratu melekat padanya.
Mengenai fungsi candi, diperkirakan bahwa Candi Bajangratu didirikan untuk menghormati Jayanegara. Dasar perkiraan ini adalah adanya relief Sri Tanjung di bagian kaki gapura yang menggambarkan cerita peruwatan. Relief yang memuat cerita peruwatan ditemukan juga, antara lain, di Candi Surawana. Candi Surawana diduga dibangun sehubungan dengan wafatnya Bhre Wengker (akhir abad ke-7). 
Bangunan ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14 dan adalah salah satu gapura besar pada zaman keemasan Majapahit. Menurut catatan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, candi / gapura ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara yang dalam Negarakertagama disebut "kembali ke dunia Wisnu" tahun 1250 Saka (sekitar tahun 1328 M). Namun sebenarnya sebelum wafatnya Jayanegara candi ini dipergunakan sebagai pintu belakang kerajaan. Dugaan ini didukung adanya relief "Sri Tanjung" dan sayap gapura yang melambangkan penglepasan dan sampai sekarang di daerah Trowulan sudah menjadi suatu kebudayaan jika melayat orang meninggal diharuskan lewat pintu belakang.
Berikut Beberapa Gambar Candi Bajang Ratu (Trowulan) :

CANDI WRINGIN LAWANG (TROWULAN)
Gapura Wringin Lawang adalah sebuah gapura peninggalan kerajaan Majapahit abad ke-14 yang berada di Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Bangunan ini terletak tak jauh ke selatan dari jalan utama di Jatipasar. Dalam bahasa Jawa, Wringin Lawang berarti 'Pintu Beringin'.
Gapura agung ini terbuat dari bahan bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tinggi 15,5 meter. Diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Gerbang ini lazim disebut bergaya candi bentar atau tipe gerbang terbelah. Gaya arsitektur seperti ini diduga muncul pada era Majapahit dan kini banyak ditemukan dalam arsitektur Bali. Kebanyakan sejarawan sepakat bahwa gapura ini adalah pintu masuk menuju kompleks bangunan penting di ibu kota Majapahit. Dugaan mengenai fungsi asli bangunan ini mengundang banyak spekulasi, salah satu yang paling populer adalah gerbang ini diduga menjadi pintu masuk ke kediaman Mahapatih Gajah Mada.
Kota terdekat: Kota Mojokerto, Badang, Kecamatan Jombang
Koordinat:   7°32'30"S   112°23'27"E
Berikut Beberapa Gambar Candi Wringin Lawang (Trowulan) :


CANDI KLINTEREJO (TROWULAN)
Petilasan Tribuana Tunggal Devi yang oleh masyarakat sekitar disebut dengan nama watu ombo, karena disitu terdapat peninggalan Tribuana Tunggal Devi berupa tempat tidur besar berbahan batu. Makanya oleh masyarakat sekitar disebut watu ombo.
Disamping ranjang dari batu ada juga batu besar di tengah tengah kompleks sebagai sumber air. belum tahu dari mana sumbernya di tengah batu yang menjulang tinggi tersimpan sumber air yang bisa buat minum. Dulu waktu renovasi komplek petilasan ini oleh masyarakat batu sumber air pernah dipindah. Membutuhkan puluhan orang untuk memindahkannya dan itu tidak mudah memerlukan waktu seharian. Dan anehnya besok paginya batu tersebut kembali ke tempat semula. 
Situs Klinterejo terletak agak jauh di sebelah uta­ra Trowulan dan sudah masuk wilayah Kecamatan Sooko.
Pada situs ini yang nampak sekarang adalah sebidang tanah di tengah sawah yang di kelilingi tembok buat­an baru. Di dalamnya kita dapati bekas kaki candi yang dibuat dari batu andesit berbentuk segi empat dengan panjang sisinya ± 5,60 meter. Di atasnya kita dapati sebuah Yoni yang amat besar. Tingginya 1,22 meter, panjangnya 1,83 meter dan lebarnya 1,91 me­ter. Bagian ceratnya didukung dengan pahatan kepala naga.
Yoni ini merupakan peninggalan purbakala yang penting, karena disamping ukurannya yang sangat be­sar juga karena memuat pahatan angka tahun 1294 caka.
Tahun Masehi menjadi 1372. Dan angka tahun ini bertepatan dengan meninggalnya Bhre Kahuripan. Oleh karena itu kompleks situs Klinterejo itu bisa di­katakan sebagai candi pemakaman dari Bhre Kahuri­pan atau Tribuwana Tunggadewi ialah ibu dari Hayam Wuruk.
Disamping itu kita dapati juga sebuah batu besar yang merupakan batu prasasti, tapi belum selesai di­kenakan. Di luar tembok kita dapati sejumlah umpak- umpak batu besar. Hal ini menunjukkan bahwa di tempat itu dahulunya ada bangunan pendopo yang tentunya cukup besar pula.
Kota terdekat: Kota Mojokerto, Badang, Kecamatan Jombang
Koordinat:   7°30'55"S   112°23'46"E

CANDI MINAK JINGGO (TROWULAN)
Situs Candi Minak Jinggo (sebutan masyarakat setempat), terletak di Desa Ungah-unggahan, Trowulan, sebelah Timur kolam Segaran, yang saat ini hanya tinggal reruntuhan candi yang terbuat dari bahan batu andesit, sebuah bahan bangunan candi yang tidak lazim dipergunakan pada candi-candi di kawasan Trowulan, yang sebagian besar mempergunakan bahan dasar batu bata merah.
Dari lokasi reruntuhan candi ini telah ditemukan sebuah arca Garudha, namun oleh masyarakat setempat dan berita-berita tradisi disebutkan sebagai arca Menak-Jinggo. Ditilik dari motif dan model ragam hias pada relief-relief candi yang masih tersisa, terlihat jelas bahwa candi tersebut adalah peninggalan kerajaan Majapahit.
Pada tahun 1977, pernah dilakukan upaya penggalian percobaan dan dilanjutkan sejak tahun 2007 yang diasumsikan memerlukan waktu beberapa tahun untuk dapat menyelesaikannya.
Berikut ini adalah sktesa candi Minak-Jinggo pada awal ditemukannya.
Ditilik dari keterangan sketsa tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa candi ini merupakan Candi Hindu yang berasal dari masa Majapahit.
Berikut Beberapa Gambar Candi Minak Jinggo (Trowulan) :



CANDI GENTONG TROWULAN
Candi Gentong terletak di Dusun Jambumente Desa Bejijong Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sekitar 1 Km dari Pusat kota kecamatan arah utara.
Bangunan Candi Gentong berupa kaki candi berdenah bujur sangkar berukuran 23.5 x 23.5 meter sedangkan tingginya 2.45 m dengan pintu masuk menghadap ke barat.
Pada saat penggalian banyak ditemukan artefak-artefak berupa pecahan keramik dna dari masa dinasti Yuan dan Ming, fragmen tembikar, mata uang cina, emas, stupika (Benda berbenturk Stupa) dan archa budha.
Dibangun pada masa pemerintah Prabu Hayam Wuruk untuk upacara Sraddha memperingati Tribuwana Wijaya Tungga Dewi yang tidak lain adalah ibunda Hayam Wuruk.
Maksud upacara ini adalah untuk memohon kesejahteraan pemerintah. Candi Gentong adalah bukti besarnya toleransi beragama pada masa itu, terbukti bahwa agama Hindhu dan Budha dapat bersanding dan mendapatjkan pengakuan pemerintah.
Berikut Beberapa Gambar Candi  Gentong (Trowulan) :


CANDI KEDATON (TROWULAN)
Situs Kedaton Trowulan merupakan sebuah kompleks sisa bangunan kuno yang berada di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto, yang terbuat dari susunan batu bata merah peninggalan dari jaman Kerajaan Majapahit. Di Situs Kedaton ini terdapat Candi Kedaton, Sumur Upas dan sisa-sisa kompleks bangunan perumahan yang diduga berasal dari abad ke-13.
Candi Kedaton, yang berada di sisi sisi kiri Situs Kedaton, berupa bagian bawah bangunan candi atau pendopo kuno berbentuk persegi datar yang dibuat dari susunan batu bata merah setinggi hampir 2 m, tanpa bagian atas. Lokasi Situs Kedaton ini tidak begitu jauh dari Pendopo Agung Trowulan. Galian purbakala di Situs Kedaton yang diduga merupakan sisa permukiman penduduk yang hidup pada jaman Kerajaan Majapahit. Area galian Situs Kedaton yang cukup luas ini dilindungi dengan atap seng yang rendah, sehingga di beberapa lokasi pengunjung harus menundukkan kepala, dengan hawa yang panas.Salah satu lokasi galian di Situs Kedaton yang cukup dalam, dengan tumpukan batu bata merah di sekitarnya yang nyaris putih warnanya.Sebuah undakan dan dinding bata yang cukup tinggi pada sebuah area yang sempit. Jika pun sebuah permukiman, entah apa fungsi area yang lebih menyerupai sebuah benteng atau lorong ini, ketimbang bagian dari sebuah bangunan perumahan.Sederetan batu bata Situs Kedaton yang disusun menyudut, terlihat seperti menyangga tumpukan batu bata di atasnya. Dinding di bawahnya terlihat semakin ke kanan semakin dalam, dengan undakan yang tidak begitu lebar di sisi kanannya.Bagian bawah dinding bata Situs Kedaton yang masih terlihat utuh dan kokoh, sementara susunan batu bata di atasnya seperti sudah tidak lagi terekat dengan baik.
Berikut Beberapa Gambar Candi Kedaton (Trowulan) :


More aboutDaftar Candi yang ada di Mojokerto (Beserta Gambar dan Penjelasan)

MAKALAH PERANG DUNIA 2

Posted by Unknown


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Latar belakang kami menyusun makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh bapak Rusman, S.Pd.

B.    Maksud dan Tujuan
Kami ingin memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh bapak Rusman, S.Pd. supaya kami bisa belajar secara mandiri dan mengetahui lebih dalam sejarah akibat Perang Dunia II.



BAB II
PEMBAHASAN

AKIBAT PERANG DUNIA 2
Perang Dunia II yang berlangsung antara tahun 1939 – 1945 menimbulkan akibat yang besar di bidang politik, ekonomi, sosial, dan kerohanian bagi negaranegara di dunia.
1.     Bidang Politik
Akibat yang muncul di bidang politik setelah Perang Dunia II berakhir sebagai berikut.
a.       Amerika Serikat dan Rusia (Uni Soviet) sebagai pemenang dalam Perang Dunia II tumbuh menjadi negara raksasa (adikuasa).
b.      Terjadinya perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang menimbulkan Perang Dingin. Jika keduanya berimbang terjadi keseimbangan kekuatan (Balance of Power Policy), walaupun perdamaian diliputi ketakutan.
c.       Nasionalisme di Asia berkobar dan timbul negara-negara merdeka seperti Indonesia (17 Agustus 1945),Filipina (4 Juli 1946), India dan Pakistan Dominion (15 Agustus 1947) dan India merdeka penuh 26 Januari 1950, Birma (4 Januari 1948), dan Ceylon (dominion 4 Februari 1948).
d.      Munculnya politik mencari kawan atau aliansi yang dibentuk berdasarkan kepentingan keamanan bersama, misalnya NATO, METO, dan SEATO.
e.       Munculnya politik memecah belah negara, misalnya:
1) Jerman dibagi menjadi dua negara, yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur.
2) Korea dibagi menjadi dua negara, yaitu Korea Selatan dan Korea Utara.
3) Indo-Cina dibagi menjadi tiga negara, yaitu Laos, Kamboja, dan Indo-Cina.
4) India dibagi menjadi dua negara, yaitu India dan Pakistan.
2.     Bidang Ekonomi
Perang Dunia II menghancurkan perekonomian negara-negara di dunia kecuali Amerika Serikat. Amerika Serikat menjadi pusat kekayaan dan kreditur dari seluruh dunia. Untuk menanamkan pengaruhnya di negara-negara Eropa dan yang lain, Amerika Serikat melaksanakan program. Misalnya Truman Doctrine (1947), Marshall Plan (1947), Point Four Truman dan Colombo Plan. Program-program ini merupakan usaha untuk membendung berkembangnya komunisme.
3.     Bidang Sosial
Untuk membantu penduduk yang menderita akibat korban Perang Dunia II PBB membentuk UNRRA (United Nations Relief Rehabilitation Administration). Tugas UNRRA di antaranya sebagai berikut.
a.       Memberi makan kepada orang-orang yang terlantar.
b.      Mendirikan rumah sakit.
c.       Mengurus pengungsi dan menyatukan dengan keluarganya.
d.      Mengerjakan kembali tanah yang rusak.

4.     Bidang Kerohanian
Setiap manusia menginginkan perdamaian. Berbagai upaya dilakukan agar tercipta perdamaian dengan membentuk lembaga perdamaian. Penderitaan yang ditimbulkan akibat Perang Dunia II menyadarkan manusia akan akibat buruk perang. Penduduk dunia menyadari perlunya lembaga yang dapat menjaga perdamaian dunia setelah Liga Bangsa-Bangsa dibubarkan. Pada tanggal 24 Oktober 1945 didirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Organization (UNO). Lembaga ini diharapkan dapat menjaga perdamaian dunia.



BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Terjadinya PD II secara tidak langsung berpengaruh terhadap kehidupan politik dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1942 Jepang berhasil mengalahkan Belanda, maka posisi Belanda Indonesia diambil alih oleh Jepang. Artinya Indonesia mulai dijajah oleh Jepang. Masa pendudukan Jepang berjalan sekitar 3,5 tahun. Berbagai kebijakan Jepang di Indonesia diarahkan untuk memperkuat kekuatan militer. Selain itu untuk ikut mendukung kemenangannya dalam menghadapi Sekutu. Perang Dunia II juga berpengaruh bagi Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Setelah Jepang kalah menyerah kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945, Indonesia dalam keadaan “vacuum of power” (kekosongan kekuasaan). Jepang sudah menyerah berarti tidak mempunyai hak memerintah Indonesia, sementara Sekutu, saat itu belum datang. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan.

B.    Saran
Alhamdulillah kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.
Kritik dan saran kami butuhkan kami perbaikan pembuatan makalah selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA

http://theprincessblue.blogspot.com/2012/02/makalah-perang-dunia-2.html 
http://studikumpulanmakalah.blogspot.com/2012/12/makalah-perang-dunia-2.html
http://ockym.blogspot.com/2012/12/makalah-perang-dunia-2.html
More aboutMAKALAH PERANG DUNIA 2

Sejarah Jolotundo Sidoarjo

Posted by Unknown

Tak banyak yang tahu, sebagian besar umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo mengandalkan air Jolotundo untuk konsumsi sehari-hari. Sumber air yang keluar dari perut Gunung Penanggungan itu sarat nilai spiritual. Secara ilmiah, berdasar uji laboratorium, kualitas air Jolotundo lebih bagus ketimbang air kemasan.

"Saya dan keluarga sudah empat tahun ini menggunakan air Jolotundo untuk berbagai keperluan. Untuk konsumsi sehari-hari di rumah jelas pakai air ini," ujar IDA AYU, warga Pondok Jati, Sidoarjo, kepada saya. Ida bersama sekitar 20 umat Hindu saat itu melakukan prosesi pengambilan air suci di kawasan Jolotundo, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Mereka membawa sebuah truk besar (milik TNI Angkatan Darat) berisi belasan jeriken kosong. Jerikan itu kemudian diisi air Jolotundo, satu tempat suci umat Hindu di Jawa Timur. "Kami ke sini kalau jeriken-jerikan di rumah sudah kosong," ujar Ida.

Mengambil air di Jolotundo, bagi pemeluk Hindu taat seperti Ida Ayu dan rombongan, jelas tidak sama dengan mengambil air di Prigen, Pacet, Trawas, dan kawasan sumber air pegunungan lain. Di sini proses ritual harus diikuti secara cermat. Busana yang dikenakan anggota rombongan pun khas Hindu Bali, serba putih, persis ketika mengikuti acara sembahyangan Hindu.

Karena itu, tidak mungkin mereka, misalnya, mengirim anak buah ke Jolotundo untuk mengisi jeriken-jeriken kosong tadi. Jika itu yang terjadi, kata beberapa umat Hindu, maka nilai sakralitasnya hilang. Tak ada bedanya dengan air pegunungan biasa yang dikonsumsi masyarakat umum. "Ini tempat suci, jadi harus ada ritualnya," tutur Ida Ayu lalu tersenyum.

Mula-mula rombongan asal Sidoarjo, Wonoayu, Jabon, dan Porong ini singgah di PETILASAN NAROTAMA, mahapatih terkenal pada masa RAJA AIRLANGGA. Di kompleks yang baru saja direnovasi itu umat Hindu melakukan doa bersama. Setelah itu, mereka berjalan kaki sekitar 200 meter ke Candi Jolotundo. Jaraknya sekitar 150 meter, tapi sangat menanjak.

"Sekalian olahraga karena medannya sangat berat. Kalau setiap hari kita jalan mendaki seperti ini, badan pasti lebih sehat," ujar Letkol ANAK AGUNG.

Bagi rombongan Sidoarjo ini, tanjakan tajam ini bukan perkara besar karena sudah menjadi menu rutin mereka. Istirahat sejenak di pelataran Candi Jolotundo, prosesi dilanjutkan dengan acara mandi bersama. Mandi di petirtaan sekaliber Jolotundo diyakini membawa kesegaran dan kesucian. Orang diingatkan untuk membersihkan kotoran dari tubuh dan jiwanya.

Tempat mandi untuk laki-laki dan perempuan dipisahkan cukup jauh. "Wanita yang sedang datang bulan dilarang masuk ke kolam Jolotundo. Anda juga diharapkan tidak kencing di dalam air," begitu pesan tertulis (dan lisan) yang wajib ditaati semua pengunjung Candi Jolotundo, tak hanya umat Hindu tentu saja.

Rupanya, acara mandi bersama ini begitu penting. Lihat saja, beberapa orang tua sempat 'marah-marah' lantaran anaknya enggan menceburkan diri ke dalam kolam Jolotundo. Asal tahu saja, lokasi Jolotundo yang mencapai 525 meter dari permukaan laut membuat kawasan ini sangat sejuk, apalagi pada petang hari. "Kalau nggak mau mandi, ya, raup saja," imbau salah satu orang tua.

Si Bagus, pelajar SMPN 4 Sidoarjo, masih terlihat ogah-ogahan. "Dingin, malas ah!" kata Bagus bersungut-sungut. Namun, setelah dilobi terus-menerus, Bagus akhirnya menyerah dan mandi di kolam Jolotundo. "Rasanya segar sekali. Saya juga minum air langsung dari pancuran," kata Bagus, kali ini berseri-seri.

MANDI bersama di Candi Jolotundo--yang airnya memancur nonstop itu--tidak boleh pakai sabun. Pengunjung, tak hanya umat Hindu, juga dianjurkan 'pipis' dulu di toilet, sekitar 50 meter dari kolam Jolotundo. Kebiasaan pengguna kolam renang biasa, yang suka kencing di dalam, tidak boleh dilakukan di kolam alami Jolotundo.

Wanita yang tengah menstruasi pun dilarang masuk ke kolam. Tapi dia bisa menikmati air bening dan sehat Jolotundo di kamar mandi Jolotundo sepuas-puasnya. Ini semua untuk menjaga kebersihan, kesehatan, serta kesucian air di Jolotundo. Bayangkan saja kalau warga mandi memakai sabun, keramas, atau (maaf) kencing sembarangan di dalam kolam.

"Umat Hindu jelas sudah sangat paham karena ini jadi tempat suci mereka. Tapi
untuk orang lain pasti selalu kita ingatkan agar menjaga kesucian tempat ini," ujar KAYUN, salah satu dari 14 penjaga (juru kunci) Candi Jolotundo, kepada saya.

Kembali ke acara mandi bersama. Namanya juga orang kota yang jarang menikmati air pegunungan, umat Hindu asal Sidoarjo ini cukup lama berada di dalam kolam. Sekitar 30 menit hingga satu jam mereka berendam di air, sembari sekali-sekali membuka mulut lebar-lebar, menengguk air minum asli pegunungan itu.

"Segar bukan main. Kami sudah pernah ngetes di laboratorium, hasilnya ternyata sangat bagus. Lebih bagus dari air minum dalam kemasan, apalagi air isi ulang," ujar IDA BAGUS OKA, warga Pondok Jati, yang menjadi pemimpin acara ritual di Candi Jolotundo.

Setelah mandi, umat Hindu mengenakan kembali busana putihnya (tak perlu handuk segala) dan siap melanjutkan ritual. Kali ini, mereka duduk bersila di pelataran candi, persis di atas kolam ikan, dan meditasi. Mula-mula dilantunkan puja-puji kepada Sang Hyang Widhi dipimpin Ida Bagus Oka. Diterangi cahaya bulan purnama, prosesi ini menambah mistis suasana Candi Jolotundo malam Minggu.

Sementara itu, pengunjung biasa yang bukan Hindu, termasuk mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya yang tengah camping di kawasan Jolotundo, duduk di ruang tunggu. Mereka memberi kesempatan kepada rombongan dari Sidoarjo untuk menggelar ritual sampai tuntas. Sebuah praktik toleransi antarumat beragama yang layak dilestarikan di muka bumi.

"Ini pengalaman baru bagi saya. Saya akhirnya tahu kalau di Jolotundo ini suasananya sangat religius. Makanya, saya penasaran ke sini dan ingin menikmati mandi di Jolotundo," aku Ahmad, mahasiswa asal Surabaya.

Ritual mandi bersama dan meditasi akhirnya tuntas sekitar pukul 18:30 WIB. Hampir bersamaan, 20-an jerikan besar (50-an liter) berwarna putih telah diisi air dari pancuran Jolotundo. Jeriken-jerikan penuh air tadi kemudian dibawa ke truk militer yang parkir di pintu gerbang Jolotundo. Rombongan pun pulang ke Sidoarjo membawa beban ratusan liter air dari perut Gunung Penanggungan yang muncrat dari Candi Jolotundo.

"Biasanya kami konsumsi sampai satu bulan. Kalau habis, ya, kami datang lagi ke sini untuk mengambil air. Acaranya, ya, seperti ini juga," ujar Ida Ayu.

Sejak tinggal di Sidoarjo, awal 2000, Ida Ayu dan rombongan senantiasa datang kompleks Candi Jolotundo untuk mengambil air. Adapun air PDAM Sidoarjo tidak dipakai untuk minum sehari-hari, tapi mencuci, menyiram, dan sebagainya. Air minum dalam kemasan seperti Aqua, Total, Ades, dll sekadar pelengkap. Konsumsi utama, ya, air Jolotundo.
More aboutSejarah Jolotundo Sidoarjo