MAKALAH STRATIFIKASI SOSIAL

Posted by Ockym al ayuby on Monday, 24 December 2012

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Setiap masyarakat senantiasa  mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan terhadap hal-hal tertentu , akan menempatkan  hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Kalau suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan material dari pada kehormatan, maka mereka yang lebih banyak mempunyai kekayaan material akan menempati kedudukan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan fihak-fihak lain. Gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat (stratifikasi sosial), yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam berbeda-beda secara vertikal.[1]

Bentuk-bentuk Stratifikasi Sosial berbeda-beda dan banyak sekali. Stratifikasi tersebut tetap ada , sekalipun dalam masyarakat kapitalistis, demokratis, komunistis dan lain sebagainya. Stratifikasi Sosial mulai ada ada sejak manusia mengenal adanya  kehidupan bersama di dalam suatu organisasi sosial, misalnya pada masyarakat-masyarakat yang bertaraf kebudayaan masih bersahaja. Untuk lebih jelasnya, pembahasan tentang Stratifikasi Sosial akan dijelaskan secara terperinci pada bagian selanjutnya.[2]

B.     Rumusan Masalah

 Berdasarkan latar belakang diatas,dapat diambil sebuah masalah yang akan dikaji dalam makalah ini diantaranya :

1.      Apa pengertian Stratifikasi Sosial ?

2.      Apa penyebab terjadinya Stratifikasi Sosial ?

3.      Bagaimanakah sistem Stratifikasi Sosial ?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial (Social Stratification) berasal dari kata bahasa latin “stratum” (tunggal) atau “strata” (jamak) yang berarti lapisan. Dalam Sosiologi, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Beberapa defenisi Stratifikasi Sosial menurut para ahli :  [3]

a.       Pitirim A. Sorokin

Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarki)

b.      Max Weber

Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, previllege dan prestise.

c.       Cuber

 Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai suatu pola yang ditempatkan di atas kategori    dari hak-hak yang berbeda

d.      Drs. Robert. M.Z. Lawang

Sosial Stratification adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu system social tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese, dan prestise .

Begitu pula dengan Seoarang filsuf bangsa Yunani yaitu Aristoteles mengatakan, bahwa di dalam tiap-tiap negara terdapat 3 unsur lapisan masyarakat, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang berada ditengah-tengahnya dan mereka yang melarat.

Ucapan Aristoteles ini membuktikan  bahwa terjadinya lapisan-lapisan dalam masyarakat sudah sejak saat itu bahkan diduga bahwa zaman sebelumnya telah diakui adanya tingkatan atau lapisan-lapisan di dalam masyarakat

B.     Terjadinya Stratifikasi Sosial

Adanya sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu. Tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Yang biasa menjadi alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah kepandaiaan, tingkat umur (senior), sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin juga harta dalam batas-batas tertentu. Alasan-alasan yang digunakan bagi tiap-tiap masyarakat diantaranya : Pada masyarakat yang hidupnya dari berburu hewan alasan utama adalah kepandaian berburu. Sedangkan pada masyarakat yang telah menetap dan bercocok tanam, maka kerabat pembuka tanah (yang dianggab asli) dianggab sebagai orang-orang yang menduduki lapisan tinggi. Hal ini dapat dilihat misalnya pada masyarakat Batak, di mana marga tanah, yaitu marga yang pertama-tama  membuka tanah, dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi.[4]

Mengenai sumber dasar dari terbentuknya stratifikasi dalam masyarakat adalah suku bangsa (etnis) dan unsur sosial. Stratifikasi yang terbentuk bersumber dari etnis apabila ada dua atau lebih grup etnis, di mana grup etnis yang satu menguasai grup etnis yang lainnya dalam waktu yang relatif lama. Sedangkan stratifikasi yang terbentuk dari sumber sosial, karena adanya tuntutan masyarakat terhadap faktor-faktor sosial tertentu. Faktor-faktor sosial itu merupakan ukuran yang biasanya ditetapkan masyarakat berdasarkan sistem nilai yang dipandang berharga. Faktor-faktor sosial yang berharga itu kemudian dimasukkan pada level tertentu sesuai dengan tinggi rendahnya suatu daya guna yang dibutuhkan masyarakat pada umumnya.

Ada beberapa ciri umum tentang Faktor-faktor yang menentukan adanya stratifikasi sosial, yaitu antara lain :

1.      Pemilikan atas kekayaan yang bernilai ekonomis dalam berbagai bentuk dan ukuran; artinya strata dalam kehidupan masyarakat dapat dilihat dari nilai kekayaan srrorang dalam masyarakat.

2.      Status atas dasar fungsi dalam pekerjaan, misalnya sebagai Dokter, Dosen, buruh atau pekerja teknis dan sebagainya; semuanya ini sangat mentukan status seseorang dalam masyarakat.

3.      Kesalahan seseoran dalam beragama; jika seseorang sungguh-sungguh penuh dengan ketulusan dalam menjalankan agamanya , maka status seseorang tadi akan dipandang lebih tinggi oleh masyarakat.

4.      Status  atas dasar keturunan, artinya keturunan dari orang yang dianggap terhormat ( ningrat ) merupakan ciri seseoarang yang memiliki status tinggi dalam masyarakat.

5.      Status atas dasar jenis kelamin dan umur seseorang. Pada umumnya seseorang yang lebih tua umurnya lebih dihormati dan dipandang tinggi statusnya dalam masyarakat. Begitu juga jenis kelamin; laki-laki pada umumnya dianggap lebih tinggi statusnya dalam keluarga dan masyarakat.

Secara teoritis, semua manusia dapat dianggap sederajat. Akan tetapi sesuai dengan kenyataan hidup kelompok-kelompok sosial, halnya tidaklah demkian.[5] Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian sistem sosial setiap masyarakat. Untuk meneliti terjadinya proses-proses lapisan masyarakat, dapatlah pokok-pokok sebagai berikut[6] yaitu sebagai brikut :

1.      Sistem stratifikasi sosial mungkin berpokok pada sistem pertengahan dalam masyarakat. Sistem demikian hanya mempuyai arti yang khusus bagi masyarakat tertentu yang menjadi obyek penyelidikan.

2.      Sistem stratifikasi sosial dapat dianalisis dalam rung lingkup unsur-unsur sebagai brikut :

a)      Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan, wewenang dan sebagainya:

b)      Sistem pertentangan yang diciptakan warga-warga masyarakat (prestise dan penghargaan)

c)      Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapatkan berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan :

d)     Lambang-lambang status, seperti misalnya tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan sebagainya;

e)      Mudah atau sukarnya bertukar status;

f)       Solidaritas  diantara individu-individu atau kelompok-kelompok sosial yang menduduki status yang sama dalam sistem sosial masyarakat:

                                                                                       i.            Pola-pola interaksi (struktur cliqe, keanggotaan organisasi perkawinan dan sebagainya);

                                                                                     ii.            Kesamaan atau perbedaan sistem kepercayaan, sikap dan nilai-nilai;

                                                                                   iii.            Kesadaran akan status masing-masing;

                                                                                   iv.            Aktivias sebagai oprgan kolektif.[7]

C.    Sistem Stratifikasi

Sistem stratifikasi sosial dalam masyrakat ada yang bersifat terbuka dan ada yang bersifat tertutup. Stratifikasi sosial yang terbuka ada kemungkinan anggota masyarakat dapat berpindah dari status satu kestatus yang lainnya berdasarkan usaha-usaha tertentu. Misalnya seorang yang berkerja sebagai petani mempunyai kemungkinan dapat menjadi tokoh agama jika ia mampu meningkatkan kesalehannya dalam menjalankan agamanya. Seorang anak buruh tani dapat mengubah statusnya menjadi seorang dokter atau menjadi presiden sekalipun, apabila ia rajin belajar, berpolitik dan bercita-cita untuk itu. Sebaliknya seorang anak presiden belum tentu dapat mencapai status presiden.

Dengan demikian berarti dalam sistem Sistem stratifikasi terbuka, setiap anggota masyarakat berhak dan mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kemampuan sendiri untuk naik status, atau mungkin juga justru stabil atau turun status sesuai dengan kualitas dan kuantitas usahanya sendiri. Dalam Sistem stratifikasi ini biasanya terdapat motivasi yang kuat pada setiap anggota masyarakat untuk berusaha memperbaiki status dan kesejahteraan hidupnya. Sistem stratifikasi terbuka lebih dinamis dan anggota-anggotanya cenderung mempunyai cita-cita yang tinggi.

Pada Sistem stratifikasi sosial tertutup terdapat pembatasan kemungkinan untuk pindah kestatus satu kestatus lainnya dalam masyarakat. Dalam sistem ini satu-satunya kemungkinan untuk dapat masuk ada status tinggi dan terhormat dalam masyarakat adalah karena kelahiran atau keturunan. Hal ini jelas dapat diketahui dari kehidupan masyarakat yang mengabungkan kasta seperti di india misalnya:[8]

a)      Keanggotaan pada kasta diperoleh karna warisan/kelahiran. Anak yang lahir memperolah kedudukan orang tuanya

b)      Keangotaan yang diwariskan tadi berlaku seumur hidup, oleh karna seseorang takmungkin mengubah kedudukannya, kecuali bika ia dikeluarkan dari kastanya.

c)      Perkawinan bersifat endogam, artinya harus dipilih dari orang yang kekasta.

d)     Hubungan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya bersifat terbatas.

e)      Kesadaran pada keanggotaan suatu kasta yang tertentu, terutama nyata dari nama kasta, identifikasi anggota pada kastanya, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kasta dan lain sebagainya.

f)       Kasta diikat oleh kedudukan-kedudukan yang secara tradisional telah ditetapkan.

g)      Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan

Sistem kasta di India telah ada berabad-abad yang lalu. Istilah untuk kasta dalam bahasa india adalah yati;[9] sedangkan sistemnya disebut varna. Menurut kitab Rig-veda dan kitab-kitab brahmana, dalam masyarakat india kuno dijumpai empat varna yang tersusun dari atas jebawah. Masing-masing adalah kasta Brahmana, Ksatra, Vaicya dan Sudra.

D.    Dasar Stratifikasi Sosial

Diantara lapisan atasan dengan yang terendah , terdapat lapisan yang jumlahnya relatif banyak. Biasanya lapisan atasan, tidak hanya memiliki satu macam saja dari apa yang dihargai oleh masyarakat. Akan tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. Artinya, mereka yang mempunyai uang banyak, akan mudah sekali mendapatkan tanah, kekuasaan dan mungkin kehormatan. Ukuran atau kriteria yang bisa dipakai menggolongkan-golongkan anggota-anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan masyarakat  adalah sebagai berikut :

1.      Ukuran kekayaan. Barangsiapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termausk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut misalnya, dapat dilihat padad rumah yang bersangkutan, mobil peribadinya, cara-caranya mempergunakan pakaian serta bahan pakaian yang di pakainya, kebiasaan untuk berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya.

2.      Ukuran kekuasaan Barangsiapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar, menempati lapisan atasan.

3.      Ukuran kehormatan. Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini, banyak di jumpai pada masyarakat teradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua, atau mereka yang pernah berjasa.

4.      Ukuran ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebagai ukuran, dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi ukuran tersbut Kadang-kadang yang menyebabkan terjadinya akibat-akibat yang negative. Karna ternya bahwa bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran, akan tetapi gelar kesarjanaanya. Sudah tentu hal yang demikian memacu segala macam usaha untuk mendapatkan gelar, walau tidak halal.

Ukuran diatas tidaklah bersipat limitatif, karna masih ada ukuran-uakuaran lain yang dapat digunakan. Akan tetapi ukuran-ukuran diatas amat menentukan sebagai timbulnya sistem lapisan pada masyarakat tertentu.

E.     Kelas-kelas Sosial

Di dalam tentang teori lapisan senantiasa dijumpai istilah kelas (social clas ).[10] Seperti yang sering terjadi dengan berbagai istilah lain dalam sosiologi, maka istilah kelas, tidak selalu mempunyai arti yang sama. Walaupun pada hakikatnya mewujudkan sistem kedudukan-kedudukan yang pokok dalam masyarakat. Penjumlahan kelas-kelas dalam masyarakat disebut class-system.[11] Artinya, semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukan mereka itu diketahui dan diakui oleh masyarakat umum.[12] Dengan demikian, maka pengertian kelas adalah paralel dengan pengetian lapisan tanpa membedakan apakah dasar lapisan itu faktor uang, tanah, kekuasaan atau dasar lainnya.

Adapula yang mengunakan istilah kelas hanya untuk lapisan yang berdasarkan atas unsur ekonomis. Sedangkan lapisan yang berdasarkan atas kehormatan dinamakan kelompok kedudukan (status group). Selanjutnya dikatakan bahwa harus diadakan pemdedaan yang tegas antara kelas dan kelompok kedudukan.[13]

Max Weber mengadakan pembedaan antara dasar ekonomis dengan dasar kedudukan sosial akan tetapi tetap mempergunakan istilah kelas bagi semua lapisan. Adanya kelas yang bersifat ekonomis dibaginya lagi ke dalam sub kelas yang bergerak dalam bidang ekonomi dengan mengunakan kecakapannya. Disamping itu, Max Weber masih menyebutkan adanya golongan yang mendapat kehormatan khusus dari masyarakat dan dinamakan Stand.[14]

Pada beberapa masyarakat di dunia, terdapat kelas-kelas yang tegas sekali. Karena orang-orang dari kelas tersebut memperoleh hak dan kewjiban yang di lindungi oleh hukum positif masyarakat yang bersangkutan. Warga masyarakat semacam itu seringkali mempunyai kesadaran dan konsepsi yang jelas seluruh sususan lapisan dalam masyarakat. Misalnya di Inggris, ada istilah-istilah tertentu seperti commoners bagi orang biasa serta nobility bagi bangsawan. Sebagaian besar warga masyarakat Inggris, menyadari bahwa orang-orang nobility berada diatas commoners (sesuai dengan adat istiadat)

Apabila pengertian kelas ditinjau serta lebih mendalam, maka akan dapat dijumpai beberapa kriteria yang tradisional, yaitu:[15]

1)      Besar jumlah anggota-anggotanya,

2)      Kebudayaan yang sama, yang menentukn hak-hak dan kewajiban-kewajiban warganya,

3)      Kelenggengan,

4)      Tand atau lambang-lambang yang merupakan cori khas,

5)      Batas-batas yang tegas (bagi kelompok itu, terhadap kelompok lain).

6)      Antagonisme tertentu.

Sehubungan dengan kriteria tersebut diatas, kelas memberikan fasilitas-fasilitas hidup yang tertentu (life-chances)bagi anggotanya. Misalnya, keselamatan atas hidup dan harta benda, kebebasan , standar hidup yang tinggi dan sebagainya, yang dalam arti-arti tertentu tidak dipunyai oleh warga kelas-kelas lainnya. Kecuali itu, kelas juga mempengaruhi gaya dan tigkah laku hidup masing-masing warganya (life-style). Karena kelas-kelas yang ada dalam masyarakat mempunyai perbedaan dalam kesepakatan-kesepakatan menjalani jenis pendidikan atau rekreasi tertentu.

F.     Unsur-unsur dalam Stratifikasi Sosial

Hal yang mewujudkan unsur dalam teori sosiologi tentang sistem lapisan masyrakat adalah kedudukan (status) dan paranan (role)[16]. Kedudukan dan peranan merupakan unsur-unsur baku dalam sistem lapisan, dan mempunyai arti yang penting bagi sistem sosial. Yang diartikan sebagai sistem sosial adalah pola-pola yang mengatur hubungan timba- balik antara individu dalam masyarakat dan antara individu dengan masyarakatnya, dan tingkah laku individu- individu tersebut[17]. Dalsm hubumgan-hubungan timbal-balik tersebut , keudukan dan peranan individu mempunyai peranan yang penting oleh karena itu untuk mendapatkan gambaran yang agak mendalam, ke dua hal tersebut akan dibicarakan tersendiri dibawah ini.

1.      Kedudukan  (Status)

Kedudukan Kadang-kadang dibedakan pengertiannya dengan kedudukan sosial ( social status )[18]. Kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukan sosial artinya adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestasinya dan hak-hak serta kewajiban-kewaibannya. Untuk lebih mudah mendapatkan pengertia, ke dua istilah tersebut di atas akan dipergunakan dalam arti yang sama dan digambarkan dengan istilah kedudukan saja.

Secara abstrak, kedudukan berarti tempat seseorang dalam suatu pola tertentu.[19] Dengan demikian , seseorang dikatakan mempunyai beberapa kedudukan , oleh karena seseorang bisanya ikut serta dalam berbagai pola kehidupan. Pengertian tersebut menunjukan tempatnaya sehubungan dengan kerangka masyarakat secara menyeluruh. Seperti Kedudukan Tuan A sebagai warga masyarakat, merupakan kombinasi dari segenab kedudukanya sebagai guru, kepala sekolah,ketua rukun tetangga dst.

Mayarakat pada umumnya mengembangkan dua macam Kedudukan yaitu :

a)      Ascribed-Status, yaitu Kedudukan seseoarang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran, misalnya kedudukan anak seoarang bangsawan adalah bangsawan pula.

b)      Achieved-Status adalah kedudukan yang dicapai oleh seseorang denagan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini tidak diperoleh atas dasar kelahiran. Akan tetapi tetapi bersifat terbukabagi siapa saja tergantung kemampuan masing-masing dalam mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya. Misalnya. Setiap orang dapat menjadi hakim asalkan mempunyai persyratan tertentu. Terserahlah kepada yang bersangkutan apakah dia mampu menjalani persyaratan-persyaratan tersebut. Apabila tidak, tak mungkin kedudukan sebagai hakim tersebut akan diperolehnya.

Dan kadang-kadang dibedakan lagi satu macam kedudukan, yaitu Assigned-status,[20] yang merupakan kedudukan yang diberikan. Assigned-status sering mempunyai  sering mempunyai hubungan yang erat dengan Achieved-Status. Artinya suatu kelompok atau golongan memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada orang yang lebih berjasa, yang telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dankepentingan masyarakat. Akan tetapi kadang-kadang kedudukan tersebut diberikan , karena seseorang telah lama menduduki suatu kepangkatan tertentu. Misalnya seorang pegawai negeri seharusnya naik pangkat secara reguler, setelah menduduki kepangkatannya yang lama, selama jangka waktu tertentu.



2.      Peranan (Role)

Peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankansuatu peranan. Pembedaan antara kedudukan dengan peranan adalah untuk kepentingan ilmu dan pengetahuan. Keduanya takdapat dipisah-pisahkan, karna yang satu tergantung pada yang lain dan sbaliknya. Tak ada peranan tanpa kedudukan atau kedudukan tanpa peranan. Sebagaimana halnya dengan kedudukan, peranan juga mempunyai dua arti.[21] Setiap orang mempunyai macam peranan yang berasal dari pola-pola pergaulan hidupnya. Hal itu sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan oleh masyarakat kepadanya. Pentingnya peranan adalah karna ia mengatur perillaku seseorang. Orang yang bersangkutan akan dapat menyesuaikan perilaku sendiri dan perilaku orang-orang sekelompoknya.[22] Hubungan-hubungan sosial yang ada masyarakat, merupakan hubungan antara peranan- peranan individu dalam masyarakat. Peranan diatur oleh norma-norma yang berlaku. Misalnya, norma kesopanan menghendaki agar seorang lelaki berjalan bersama seorang wanita.

Peranan yang melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan ke3maqsyarakatan. Posisi seseorang dalam masyarakat (yaitu social position) merupakan unsur statis yang menunjukan tempat individu pada organisasi masyarakat. Peranan lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyusuaian diri dan sebagai suatu proses. Jadi, seseorang menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan. Peranan mencakup tiga hal, yaitu :[23]

a)       Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.

b)      Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

c)      Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaaku individu yang penting bagi struktur sosioal masyarakat.

Perlu pula disingung perihal fasilitas bagi peranan indivudu (role-facilities). Masyarakat biasanyamemberikan fasilitas-fasilitas pada individu untuk dapat menjalankan peranan. Lembaga-lembaga kemasyarakatan merupakan bagaian masyarakat yang banyak menyediakan peluang-peluang untuk pelasaksanaan peranan. Kadang-kadang perubahan struktur suatu golongan kemasyarakatan menyebabkan fasilitas bertambah. Misalnya, perubahan organisasi suatu sekolah yang memerlukan penambahan guru, pegawai administrasi, dan seterusnya. Akan tetapi sebaliknya, juga dapat mengurangi peluang-peluang, apabila terpaksa diadakan rasionalisasi sebagai akibat perubahan struktur dan organisasi.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

            Setelah membahas dan memahami uraian di atas, dapat dibuat sebuah kesimpulan sebagai berikut:[24]

            Selama dalam satu masyarakat ada sesuatu yang dihargai, dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem lapisan dalam masyarakat. Sistem lapisan dalam masyarakat dalam sosiologi dikenal dengan istilah socil stratification yang merupakan pembedaan penduduk atau nasyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hirarkis).

        Sistem lapisan dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya (dalam proses pertubuhan masyarakat itu) tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Sifat Sistem lapisan dalam masyarakat dapat tertutup dan dapat pula terbuka. yang bersifat tertutup tidak memungkinkan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik gerak pindahnya itu ke atas atau kebawah. Sebaliknya di dalam system terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri naik lapisan, atau bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan di bawahnya.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Soekanto Soerjono, 1990;

Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo Persaja, Jakarta,

2.      Abdulsyani, 1992;

Sosiologi Skematika, teori dan Terapan, PT. Bumi Aksara,

http://studikumpulanmakalah.blogspot.com/2012/12/makalah-stratifikasi-sosial.html

[1] Soerjono Soekanto : Sosiologi Pengantar, edisi baru keempat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1990, halaman 253.

[2] Soerjono Soekanto : Sosiologi Pengantar, edisi baru keempat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1990, halaman 253.

[3] Abdulsyani : Sosiologi Skematika, Teori dan Terapan, Bumi Aksara, Jakarta Anggota IKAPI, 1994, halaman 83

[4]Soerjono Soekanto : Sosiologi Pengantar, edisi baru keempat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1990, halaman 254

[5] Robin Willams Jr.,American Society, edisdi baru ke-2, A Fred A Knop. New York, 1960, hal 88,89

[6] Ibid., hal 89

[7] Abdulsyani : Sosiologi Skematika, Teori dan Terapan, Bumi Aksara, Jakarta Anggota IKAPI, 1994, halaman 85 dan seterusnya

[8] Kingslay Davis, Human Society, cetakan ke-13, The Macmillan Company, New York, 1960 hal 378-379

[9] Koentjaraningrat: Beberapa Pokok Antropologi Sosial, cetakan pertama. Penerbit Dian Rakyat, 1967, hal 174 dan seterusnya.

[10] Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi: Setankai Bunga Sosiologi, edisi pertama, Yayasan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1964, hal 255 dan seterusnya.

[11] Misalnhya Ronald Freedman, Amos . Hawiey, Werner S. Landecker, Horace M. Miner  dalam Principles of Sosiology,  a text with readings,  Henry Holt and Company, New York, 1952, hal 229

[12] Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi: ope. Cit., hal 255.

[13] Pendapat ini berasal dari Kurt B. Mayer dalam karangannya “Dimensions of Social Stratification in Modern Society”. Yang dikutip dalam Setangkai Bunga Sosiologi, hal 281 dan seterusnya.

[14] Max Weber, “Sosial Stratification and Class Structure”, Yang dikutip dalam Setangkai Bunga Sosiologi, hal 303 dan seterusnya.

[15] William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkoff, Sosiologi, edisi ke-4, A.P. Feffer dan Simons International University Edition, 19.

[16] Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, op. cit., hal 256.

[17] Ralph Linton, The Study of Man, an introduction, Appleton Century. Crofts. New York, 1956, hal 105.

[18] Roucek dan Werren,  Sosiology, an introduction, Littlefield, Adams & Co. Paterson New Jersey, 1962, hal 60 dan setrusnya.

[19] Ralph Linton, op. cit., hal 113

[20] JBAF Mayor Polak, Sosiologi, Suatu Pengantar Ringkas, catatan kelima, Penerbit dan Balai Buku ”ikhtiar”, Jakarta 1966, hal 198.

[21] Ralph Linton, op. cit., hal 114

[22] Ely Chinoy, Society, An Introduction to Sociology, cetakan pertama, Random House, New York, 1961, hal 31.

[23] Levinson, “Role Personality and Social Strukture”, dalam Lewis A. Coser dan Bernard Rosenberg, Sosiological Theory, a book of readings, edisi ke-2, The Macmillan Company, New York, 1964, hal 204 dst.

[24] Soerjono Soekanto : Sosiologi Pengantar, edisi baru keempat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1990, halaman 284-285

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment